Sabtu, 15 Maret 2014

Demokrasi Pendidikan (Penelitian)



PENELITIAN INDIVIDUAL
DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN
Tema :
DEMOKRASI PENDIDIKAN
Nama Peneliti              : Yuli Musrifatus Sa’diah
Kelas / NIM                : C / D77213107
Waktu Penelitian         : Minggu, 17 November 2013
Lokasi Penelitian         : Desa/Kelurahan         : Jl. Menganti Krajan 474
                                      Kecamatan                : Menganti
                                      Kabupaten/Kota        : Gresik
Instrumen Penelitian   : 0 Observasi  0 Wawancara  0 Dokumentasi  0 Angket  0 ……………………………..
Fokus Penelitian          : a. Selayang pandang Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar
                                      b. Pengetahuan demokrasi pendidikan
                                      c. Wujud demokrasi pendidikan
                                      d. Penerapan demokrasi pendidikan
                                      e. Kendala beserta penyelesaiannya
Penyajian Data            : a. Bagaimana tentang Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar ini?
                                      b. Apa yang anda ketahui tentang demokrasi pendidikan?
                                      c. Bagaimana wujud demokrasi pendidikan saat ini?
  d.Apakah di sekolah ini, demokrasi pendidikan sudah di terapkan dengan baik? Jika sudah, seperti apa bentuknya?
  e.Apakah dalam proses tersebut ada kendalanya? Jika ada, apakah dari pihak sekolah sudah menemukan solusinya?
 Analisis Data              :
a.      Selayang Pandang Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar
Pendidikan merupakan salah satu factor penting yang sangat menentukan dalam menstimulasi terjadinya perubahan sosial kehidupan masyarakat. Dalam upaya untuk mengantisipasi dan menghadapi perubahan tersebut, maka Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Ihsan menyediakan beberapa alternatif lembaga pendidikan mulai dari tingkat Perguruan Tinggi (STAI Al-Azhar), Tingkat Menengah Atas (SMA Al-Azhar), Tingkat Menengah Kejuruan (SMK Al-Azhar), Tingkat Menengah Pertama (SMP Al-Azhar) sampai dengan Tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD Al-Azhar).
Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh mengembangkan diri dan meningkatkan mutu pendidikan serta dengan mengedepankan profesionalisme dalam rangka meningkatkan kualitas intelektual, sikap dan ketrampilan para siswa dalam menghadapi masa depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran islam.
Di dalam proses belajar mengajar di samping menggunakan pendekatan konvensional, juga dilakukan model-model terbaru (CTL, Kooperatif Indoor, Outdoor). Sedangkan kurikulum yang dipakai adalah kurikulum Depdiknas, Depag, dan kurikulum khusus yang telah deprogram secara integral, terpadu serta berorientasi ke depan. Untuk mencapai tujuan pendidikan, LPI Al-Azhar menyiapkan tenaga pendidik yang layak dan berwawasan luas, mereka adalah para sarjana S1, S2, dan S3 yang berpengalaman serta berkomitmen dalam dunia pendidikan.

b.      Pengetahuan Demokrasi Pendidikan
Demokrasi pendidikan adalah kebebasan dalam menjalankan sebuah pendidikan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah (Pondok pesantren, Madrasah Diniyah, atau lembaga non formal lainnya) yang berpedoman pada tujuan pendidikan nasional di Indonesia.                                                                                                                             Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.                 Dengan adanya pendidikan, maka akan timbul dalam diri seseorang untuk berlomba-lomba dan memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih memajukan pemrintah ini, maka usahakan pendidikan mulai dari tingkat SD sampai pendidikan di tingkat Universitas.                                                                                                                              Pada intinya pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi disini pendidikan hanya menekankan pada intelektual saja, dengan bukti bahwa adanya UN sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan tanpa melihat proses pembentukan karakter dan budi pekerti anak.

c.       Wujud Demokrasi Pendidikan di LPI Al-Azhar
Dengan adanya kurikulum 2013, di harapkan seorang guru untuk menerapkan semua ide yang di miliki demi kepentingan kemajuan pembelajaran yang berlandaskan karakter bangsa.                                                                                                          Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.                                                     Pendidikan Karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/ atau kelompok yang unik baik sebagai warga negara. Karakter Bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa, karsa dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, norma UUD 1945, keberagaman dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.                                                                                             Secara umum untuk mewujudkan pendidikan karakter bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan formal, non formal, dan informal yang saling melengkapi dan mempercayai dan diatur dalam peraturan dan undang-undang. Contoh pada pendidikan formal.                                                                                                               Pendidikan formal dilaksanakan secara berjenjang dan pendidikan tersebut mencakup pada pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, evokasi keagamaan dan khusus. Dalam pelaksanaan pendidikan karakter bangsa dapat dilakukan melalui jenjang pendidikan yang diimplementasikan pada kurikulum di tingkat satuan pendidikan yang memuat pelajaran normatif, adaptif, produktif, muatan lokal, dan pengembangan diri. Pendidikan karakter bangsa di sekolah yang diimplementasikan pada pendidikan pengembangan diri antara lain; melalui kegiatan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, semisal : pengurus OSIS, Pramuka, PMR, PKS, KIR, Olahraga, Seni, Keagamaan dan lainnya. Dengan kegiatan ekstrakurikuler ini sangat menyentuh, mudah dipahami, dan dilakukan siswa sebagai bagian penyaluran minat dan dilakukan siswa sebagai bagian penyaluran minat dan bakat yang dapat dikembangkan sebagai perwujudan pendidikan karakter bangsa.

d.      Penerapan Demokrasi Pendidikan di LPI Al-Azhar
Setiap guru di Al-Azhar di beri kebebasan untuk melaksanakan pembelajaran sesuai metode dan model pembelajaran yang kreatif yang tetap dalam kontrolling kurikulum dan Kepala Sekolah.                                                                                          Akhir - akhir ini dunia pendidikan lebih disadarkan adanya penelitian-penelitian yang menghasilkan penemuan bahwa model belajar yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan menjadikan siswa dapat berhasil. Hal ini  bertolak belakang dengan yang telah dipratikkan oleh sebagian guru di Indonesia yang masih mengajar secara konvensional. Untuk itulah, kedepan diperlukan upaya strategis  untuk membangun dan menciptakan guru-guru yang kreatif dan berdedikasi tinggi.
Terlebih dengan akan diberlakukannya kurikulum baru 2013 yang didalamnya menitikberatkan pada kreatifitas dan inovatif guru. Maka pelatihan guru merupakan langkah yang semestinya di prioritaskan. Disamping itu, perlu adanya stimulasi khusus untuk melatih guru lebih mandiri dalam berkarya. Misalkan saja guru yang sudah menghasilkan karya, entah berbentuk media peraga, media pembelajaran, karya tulis ilmiah, buku dan lain-lain hendaknya di beri apresiasi konkrit dari pemerintah maupun dinas terkait                                                                                                                                  Salah satu dari model pembelajaran yang kreatif yakni, seringkali guru mengajar di dalam kelas dari jam pertama hingga terakhir. Kondisi tersebut membuat siswa jadi jenuh dan kurang semangat belajar. Guru terkadang tidak mau susah-susah dan ribet menyiapkan rancangan media pembelajaran di luar kelas. Inginnya yang praktis saja. Datang, ngajar lalu pulang. tidak perlu menyiapkan media, tidak perlu membuat rencana pembalajaran, tidak perlu menyetting kelas dengan aneka macam variasi, yang semua itu menjadikan siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran yang diberikan guru. Akhirnya dapat ditebak, guru hanya mengajar secara monoton, kurang variatif, dan tidak ada inovasi yang baru. Maka sebagaimana penelitan yang diadakan di sekolah-sekolah unggulan bahwa kemampuan siswa tidak jauh melesat dari kemampuan kognitif gurunya. Oleh karena itu, sudah selayaknya pembelajaran model konvensional yang monoton untuk dirubah dengan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.                                               Diantara strategi pembelajaran yang menarik adalah dengan belajar melalui benda nyata dan juga siswa melakukan (learning by doing), seperti halnya siswa diajak untuk belajar di luar kelas oleh gurunya. Pembelajaran model di luar kelas adalah favorit bagi anak-anak. Mereka akan merasa fresh kembali karena sudah menghirup udara segar dan melihat alam yang terbuka. Selain sehat, siswa juga merasa senang belajarnya.

e.       Kendala Demokrasi Pendidikan di LPI Al-Azhar dan Penyelesaiannya
Untuk saat ini kendala utama yang di hadapi adalah kurangnya media dan fasilitas pembelajaran yang modern sehingga terkadang anak-anak masih tertinggal dalam informasi pada pembelajaran. Dan untuk solusinya yakni masih dalam proses pencarian yang sesuai penerapan perkembangan pendidikan kurikulum saat ini.                                    Otonomi pendidikan memberikan peluang kepada pihak – pihak yang terkait dengan dunia persekolahan untuk dapat berinteraksi dan berkontribusi secara lebih intensif. Interaksi intensif ini menjadi sangat wajar karena keberadaan sekolah memang tidak dapat dilepaskan dari dunia luar (masyarakat). Masyarakat adalah pengguna jasa pendidikan. Mereka memiliki dan menaruh harapan pada sekolah untuk dapat memberikan bekal pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.                                           Kurikulum sesungguhnya ialah apa yang terjadi di kelas dalam interaksi siswa dengan guru dan siswa dengan lainnya dan dengan lingkungan. Di dalam kelas, kurikulum adalah benda hidup yang dinamis. Bukan sekedar kumpulan dokumen cetak belaka. Guru harus menerjemahkan kurikulum itu dalam bentuk interaksi hidup antara guru dan siswa. Untuk melaksanakan kurikulum itu dan juga dalam usaha untuk mengubahnya agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak dalam masyarakat tertentu diperlukan peserta lain. Mereka adalah berbagai unsur yang setiap hari terlibat dalam kurikulum yakni guru, murid, kepala sekolah, dan pengawas sekolah dari Dinas Pendidikan.                                                                                                                       Pemeran utama dalam pengembangan KTSP adalah kepala sekolah, guru, dan komite sekolah. Pemerintah, perguruan tinggi, ahli kurikulum dan berbagai lapisan masyarakat merupakan orang – orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum sekolah dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok Intern (dari dalam) sekolah dan kelompok ekstern (dari luar) sekolah.                                                                                                                                   Agar usaha pengembangan kurikulum di sekolah dapat berhasil baik, maka perlu diperhatikan langkah-langkah pengembangan kurikulum di sekolah. Langkah-langkah itu mencakup :
  1. Selidiki berbagai kebutuhan sekolah, antara lain kebutuhan siswa, kebutuhan guru, dan kebutuhan akan perubahan dan perbaikan.
  2. Mengidentifikasi masalah serta merumuskannya, yang timbul berdasarkan studi tentang berbagai kebutuhan yang disebut di atas, lalu memilih salah satu yang dianggap paling mendesak diatasi.
  3. Mengajukan saran perbaikan, yang dapat didiskusikan bersama, apakah sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku, menilai maknanya bagi pengembangan sekolah, dan menjelaskan makna serta implikasinya.
  4. Menyiapkan desain perencanaan yang mencakup tujuan, cara mengevaluasi, menentukan bahan pelajaran, metode penyampaian, percobaaan, penilaian, balikan, perbaikan, pelaksanaan dan seterusnya.
  5. Memilih anggota panitia, sedapat mungkin sesuai dengan kompetensi masing-masing.
  6. Mengawasi pekerjaan panitia, biasanya oleh kepala sekolah.
  7. Melaksanakan hasil kerja panitia oleh guru dalam kelas. Karena pekerjaan ini tidak mudah, kepala sekolah hendaknya senantiasa menunjukkan penghargaannya terhadap pekerjaan semua pihak yang terlibat dalam usaha pengembangan kurikulum.
  8. Menerapkan cara-cara evaluasi, apakah yang direncanakan itu dapat direalisasikan, karena apa yang indah di atas kertas belum tentu dapat diwujudkan.
  9. Memantapkan perbaikan, bila ternyata usaha itu berhasil baik dan dijadikan pedoman selanjutnya.                                                                                                                                    Pada taraf permulaan hendaknya diambil suatu proyek yang sederhana, yang memungkinkan  untuk dapat dilaksanakan dengan baik. pengembangan di masa mendatang. Jadi, jangan didesak melakukannya dengan tergesa-gesa. Ada pengembangan kurikulum yang fundamental yang memakan waktu puluhan tahun. Perubahan kurikulum senantiasa melibatkan perubahan manusia yang melaksanakannya. Agar Ketidakberhasilan akan menimbulkan kekecewaan dan keengganan untuk mengadakan kurikulum berubah, maka guru sendiri harus berubah dan didorong untuk berubah.
Kesimpulan:                                                                                                                                                    Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh mengembangkan diri dan meningkatkan mutu pendidikan serta dengan mengedepankan profesionalisme dalam rangka meningkatkan kualitas intelektual, sikap dan ketrampilan para siswa dalam menghadapi masa depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran islam
Demokrasi pendidikan adalah kebebasan dalam menjalankan sebuah pendidikan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah (Pondok pesantren, Madrasah Diniyah, atau lembaga non formal lainnya) yang berpedoman pada tujuan pendidikan nasional di Indonesia.
Salah satu wujud demokrasi pendidikan saat ini adalah dengan adanya kurikulum 2013, di harapkan seorang guru untuk menerapkan semua ide yang di miliki demi kepentingan kemajuan pembelajaran yang berlandaskan karakter bangsa.
Penerapan demokrasi di LPI Al-Azhar yakni setiap guru di Al-Azhar di beri kebebasan untuk melaksanakan pembelajaran sesuai metode dan model pembelajaran yang kreatif yang tetap dalam kontrolling kurikulum dan Kepala Sekolah.
Untuk saat ini kendala utama yang di hadapi adalah kurangnya media dan fasilitas pembelajaran yang modern sehingga terkadang anak-anak masih tertinggal dalam informasi pada pembelajaran. Dan untuk solusinya yakni masih dalam proses pencarian yang sesuai penerapan perkembangan pendidikan kurikulum saat ini.
Agar usaha pengembangan kurikulum di sekolah dapat berhasil baik, maka perlu diperhatikan langkah-langkah pengembangan kurikulum di sekolah.









Lampiran-lampiran
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar