PENELITIAN INDIVIDUAL
DASAR-DASAR
KEPENDIDIKAN
Tema :
DEMOKRASI PENDIDIKAN
Nama
Peneliti : Yuli Musrifatus
Sa’diah
Kelas
/ NIM : C / D77213107
Waktu
Penelitian : Minggu, 17 November
2013
Lokasi
Penelitian : Desa/Kelurahan : Jl. Menganti Krajan 474
Kecamatan :
Menganti
Kabupaten/Kota : Gresik
Instrumen
Penelitian : 0
Observasi 0
Wawancara 0
Dokumentasi 0
Angket 0
……………………………..
Fokus
Penelitian : a. Selayang pandang Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar
b. Pengetahuan demokrasi pendidikan
c. Wujud demokrasi pendidikan
d. Penerapan demokrasi pendidikan
e. Kendala beserta penyelesaiannya
Penyajian
Data : a. Bagaimana tentang
Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar ini?
b. Apa yang anda ketahui tentang demokrasi
pendidikan?
c. Bagaimana wujud demokrasi pendidikan saat
ini?
d.Apakah di sekolah ini, demokrasi pendidikan
sudah di terapkan dengan baik? Jika sudah, seperti apa bentuknya?
e.Apakah dalam proses tersebut ada
kendalanya? Jika ada, apakah dari pihak sekolah sudah menemukan solusinya?
Analisis Data :
a.
Selayang
Pandang Lembaga Pendidikan Islam Al-Azhar
Pendidikan
merupakan salah satu factor penting yang sangat menentukan dalam menstimulasi
terjadinya perubahan sosial kehidupan masyarakat. Dalam upaya untuk
mengantisipasi dan menghadapi perubahan tersebut, maka Lembaga Pendidikan Islam
Al-Azhar yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Ihsan
menyediakan beberapa alternatif lembaga pendidikan mulai dari tingkat Perguruan
Tinggi (STAI Al-Azhar), Tingkat Menengah Atas (SMA Al-Azhar), Tingkat Menengah
Kejuruan (SMK Al-Azhar), Tingkat Menengah Pertama (SMP Al-Azhar) sampai dengan
Tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD Al-Azhar).
Lembaga
Pendidikan Islam Al-Azhar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan selalu
berusaha dengan sungguh-sungguh mengembangkan diri dan meningkatkan mutu
pendidikan serta dengan mengedepankan profesionalisme dalam rangka meningkatkan
kualitas intelektual, sikap dan ketrampilan para siswa dalam menghadapi masa
depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran islam.
Di
dalam proses belajar mengajar di samping menggunakan pendekatan konvensional,
juga dilakukan model-model terbaru (CTL, Kooperatif Indoor, Outdoor). Sedangkan
kurikulum yang dipakai adalah kurikulum Depdiknas, Depag, dan kurikulum khusus
yang telah deprogram secara integral, terpadu serta berorientasi ke depan.
Untuk mencapai tujuan pendidikan, LPI Al-Azhar menyiapkan tenaga pendidik yang
layak dan berwawasan luas, mereka adalah para sarjana S1, S2, dan S3 yang
berpengalaman serta berkomitmen dalam dunia pendidikan.
b.
Pengetahuan
Demokrasi Pendidikan
Demokrasi
pendidikan adalah kebebasan dalam menjalankan sebuah pendidikan baik di dalam
sekolah maupun di luar sekolah (Pondok pesantren, Madrasah Diniyah, atau
lembaga non formal lainnya) yang berpedoman pada tujuan pendidikan nasional di
Indonesia. Tujuan Pendidikan Nasional adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya,
yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani
dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. Dengan
adanya pendidikan, maka akan timbul dalam diri seseorang untuk
berlomba-lomba dan memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala
aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih
memajukan pemrintah ini, maka usahakan pendidikan mulai dari tingkat SD sampai
pendidikan di tingkat Universitas. Pada intinya pendidikan itu
bertujuan untuk membentuk karakter seseorang yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi disini pendidikan hanya menekankan pada
intelektual saja, dengan bukti bahwa adanya UN sebagai tolak ukur keberhasilan
pendidikan tanpa melihat proses pembentukan karakter dan budi pekerti anak.
c.
Wujud
Demokrasi Pendidikan di LPI Al-Azhar
Dengan
adanya kurikulum 2013, di harapkan seorang guru untuk menerapkan semua ide yang
di miliki demi kepentingan kemajuan pembelajaran yang berlandaskan karakter
bangsa. Pendidikan
adalah suatu usaha sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta
didik. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau
kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai
kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir,
bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan
Karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta
proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun
karakter pribadi dan/ atau kelompok yang unik baik sebagai warga negara. Karakter
Bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas baik yang
tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan
bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa, karsa dan perilaku
berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, norma
UUD 1945, keberagaman dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara
umum untuk mewujudkan pendidikan karakter bangsa dapat dilakukan melalui
pendidikan formal, non formal, dan informal yang saling melengkapi dan
mempercayai dan diatur dalam peraturan dan undang-undang. Contoh pada
pendidikan formal. Pendidikan
formal dilaksanakan secara berjenjang dan pendidikan tersebut mencakup pada
pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, evokasi keagamaan dan khusus.
Dalam pelaksanaan pendidikan karakter bangsa dapat dilakukan melalui jenjang
pendidikan yang diimplementasikan pada kurikulum di tingkat satuan pendidikan
yang memuat pelajaran normatif, adaptif, produktif, muatan lokal, dan
pengembangan diri. Pendidikan karakter bangsa di sekolah yang diimplementasikan
pada pendidikan pengembangan diri antara lain; melalui kegiatan kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah, semisal : pengurus OSIS, Pramuka, PMR, PKS, KIR,
Olahraga, Seni, Keagamaan dan lainnya. Dengan kegiatan ekstrakurikuler ini
sangat menyentuh, mudah dipahami, dan dilakukan siswa sebagai bagian penyaluran
minat dan dilakukan siswa sebagai bagian penyaluran minat dan bakat yang dapat
dikembangkan sebagai perwujudan pendidikan karakter bangsa.
d.
Penerapan
Demokrasi Pendidikan di LPI Al-Azhar
Setiap
guru di Al-Azhar di beri kebebasan untuk melaksanakan pembelajaran sesuai
metode dan model pembelajaran yang kreatif yang tetap dalam kontrolling
kurikulum dan Kepala Sekolah. Akhir
- akhir ini dunia pendidikan lebih disadarkan adanya penelitian-penelitian yang
menghasilkan penemuan bahwa model belajar yang kreatif, inovatif, dan
menyenangkan menjadikan siswa dapat berhasil. Hal ini bertolak belakang
dengan yang telah dipratikkan oleh sebagian guru di Indonesia yang masih
mengajar secara konvensional. Untuk itulah, kedepan diperlukan upaya
strategis untuk membangun dan menciptakan guru-guru yang kreatif dan
berdedikasi tinggi.
Terlebih
dengan akan diberlakukannya kurikulum baru 2013 yang didalamnya menitikberatkan
pada kreatifitas dan inovatif guru. Maka pelatihan guru merupakan langkah yang
semestinya di prioritaskan. Disamping itu, perlu adanya stimulasi khusus untuk
melatih guru lebih mandiri dalam berkarya. Misalkan saja guru yang sudah
menghasilkan karya, entah berbentuk media peraga, media pembelajaran, karya
tulis ilmiah, buku dan lain-lain hendaknya di beri apresiasi konkrit dari
pemerintah maupun dinas terkait Salah satu dari model
pembelajaran yang kreatif yakni, seringkali guru mengajar di dalam kelas dari
jam pertama hingga terakhir. Kondisi tersebut membuat siswa jadi jenuh dan
kurang semangat belajar. Guru terkadang tidak mau susah-susah dan ribet
menyiapkan rancangan media pembelajaran di luar kelas. Inginnya yang praktis
saja. Datang, ngajar lalu pulang. tidak perlu menyiapkan media, tidak perlu
membuat rencana pembalajaran, tidak perlu menyetting kelas dengan aneka macam variasi,
yang semua itu menjadikan siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran yang
diberikan guru. Akhirnya dapat ditebak, guru hanya mengajar secara monoton,
kurang variatif, dan tidak ada inovasi yang baru. Maka sebagaimana penelitan
yang diadakan di sekolah-sekolah unggulan bahwa kemampuan siswa tidak jauh
melesat dari kemampuan kognitif gurunya. Oleh karena itu, sudah selayaknya
pembelajaran model konvensional yang monoton untuk dirubah dengan pembelajaran
yang aktif dan menyenangkan. Diantara
strategi pembelajaran yang menarik adalah dengan belajar melalui benda nyata
dan juga siswa melakukan (learning by doing), seperti halnya siswa diajak untuk
belajar di luar kelas oleh gurunya. Pembelajaran model di luar kelas adalah
favorit bagi anak-anak. Mereka akan merasa fresh kembali karena sudah menghirup
udara segar dan melihat alam yang terbuka. Selain sehat, siswa juga merasa
senang belajarnya.
e.
Kendala
Demokrasi Pendidikan di LPI Al-Azhar dan Penyelesaiannya
Untuk
saat ini kendala utama yang di hadapi adalah kurangnya media dan fasilitas
pembelajaran yang modern sehingga terkadang anak-anak masih tertinggal dalam
informasi pada pembelajaran. Dan untuk solusinya yakni masih dalam proses
pencarian yang sesuai penerapan perkembangan pendidikan kurikulum saat ini. Otonomi
pendidikan memberikan peluang kepada pihak – pihak yang terkait dengan dunia
persekolahan untuk dapat berinteraksi dan berkontribusi secara lebih intensif.
Interaksi intensif ini menjadi sangat wajar karena keberadaan sekolah memang
tidak dapat dilepaskan dari dunia luar (masyarakat). Masyarakat adalah pengguna
jasa pendidikan. Mereka memiliki dan menaruh harapan pada sekolah untuk dapat
memberikan bekal pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Kurikulum
sesungguhnya ialah apa yang terjadi di kelas dalam interaksi siswa dengan guru
dan siswa dengan lainnya dan dengan lingkungan. Di dalam kelas, kurikulum
adalah benda hidup yang dinamis. Bukan sekedar kumpulan dokumen cetak belaka.
Guru harus menerjemahkan kurikulum itu dalam bentuk interaksi hidup antara guru
dan siswa. Untuk melaksanakan kurikulum itu dan juga dalam usaha untuk
mengubahnya agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak dalam masyarakat
tertentu diperlukan peserta lain. Mereka adalah berbagai unsur yang setiap hari
terlibat dalam kurikulum yakni guru, murid, kepala sekolah, dan pengawas
sekolah dari Dinas Pendidikan. Pemeran utama dalam
pengembangan KTSP adalah kepala sekolah, guru, dan komite sekolah. Pemerintah,
perguruan tinggi, ahli kurikulum dan berbagai lapisan masyarakat merupakan
orang – orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Dengan kata lain,
pengembangan kurikulum sekolah dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu
kelompok Intern (dari dalam) sekolah dan kelompok ekstern (dari luar) sekolah. Agar
usaha pengembangan kurikulum di sekolah dapat berhasil baik, maka perlu
diperhatikan langkah-langkah pengembangan kurikulum di sekolah. Langkah-langkah
itu mencakup :
- Selidiki berbagai kebutuhan sekolah, antara lain kebutuhan siswa, kebutuhan guru, dan kebutuhan akan perubahan dan perbaikan.
- Mengidentifikasi masalah serta merumuskannya, yang timbul berdasarkan studi tentang berbagai kebutuhan yang disebut di atas, lalu memilih salah satu yang dianggap paling mendesak diatasi.
- Mengajukan saran perbaikan, yang dapat didiskusikan bersama, apakah sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku, menilai maknanya bagi pengembangan sekolah, dan menjelaskan makna serta implikasinya.
- Menyiapkan desain perencanaan yang mencakup tujuan, cara mengevaluasi, menentukan bahan pelajaran, metode penyampaian, percobaaan, penilaian, balikan, perbaikan, pelaksanaan dan seterusnya.
- Memilih anggota panitia, sedapat mungkin sesuai dengan kompetensi masing-masing.
- Mengawasi pekerjaan panitia, biasanya oleh kepala sekolah.
- Melaksanakan hasil kerja panitia oleh guru dalam kelas. Karena pekerjaan ini tidak mudah, kepala sekolah hendaknya senantiasa menunjukkan penghargaannya terhadap pekerjaan semua pihak yang terlibat dalam usaha pengembangan kurikulum.
- Menerapkan cara-cara evaluasi, apakah yang direncanakan itu dapat direalisasikan, karena apa yang indah di atas kertas belum tentu dapat diwujudkan.
- Memantapkan perbaikan, bila ternyata usaha itu berhasil baik dan dijadikan pedoman selanjutnya. Pada taraf permulaan hendaknya diambil suatu proyek yang sederhana, yang memungkinkan untuk dapat dilaksanakan dengan baik. pengembangan di masa mendatang. Jadi, jangan didesak melakukannya dengan tergesa-gesa. Ada pengembangan kurikulum yang fundamental yang memakan waktu puluhan tahun. Perubahan kurikulum senantiasa melibatkan perubahan manusia yang melaksanakannya. Agar Ketidakberhasilan akan menimbulkan kekecewaan dan keengganan untuk mengadakan kurikulum berubah, maka guru sendiri harus berubah dan didorong untuk berubah.
Kesimpulan: Lembaga
Pendidikan Islam Al-Azhar sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan selalu
berusaha dengan sungguh-sungguh mengembangkan diri dan meningkatkan mutu
pendidikan serta dengan mengedepankan profesionalisme dalam rangka meningkatkan
kualitas intelektual, sikap dan ketrampilan para siswa dalam menghadapi masa
depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran islam
Demokrasi
pendidikan adalah kebebasan dalam menjalankan sebuah pendidikan baik di dalam
sekolah maupun di luar sekolah (Pondok pesantren, Madrasah Diniyah, atau
lembaga non formal lainnya) yang berpedoman pada tujuan pendidikan nasional di
Indonesia.
Salah satu
wujud demokrasi pendidikan saat ini adalah dengan adanya kurikulum 2013, di
harapkan seorang guru untuk menerapkan semua ide yang di miliki demi
kepentingan kemajuan pembelajaran yang berlandaskan karakter bangsa.
Penerapan
demokrasi di LPI Al-Azhar yakni setiap guru di Al-Azhar di beri kebebasan untuk
melaksanakan pembelajaran sesuai metode dan model pembelajaran yang kreatif
yang tetap dalam kontrolling kurikulum dan Kepala Sekolah.
Untuk
saat ini kendala utama yang di hadapi adalah kurangnya media dan fasilitas
pembelajaran yang modern sehingga terkadang anak-anak masih tertinggal dalam
informasi pada pembelajaran. Dan untuk solusinya yakni masih dalam proses
pencarian yang sesuai penerapan perkembangan pendidikan kurikulum saat ini.
Agar usaha
pengembangan kurikulum di sekolah dapat berhasil baik, maka perlu diperhatikan
langkah-langkah pengembangan kurikulum di sekolah.
Lampiran-lampiran


Tidak ada komentar:
Posting Komentar