Sudah menjadi lagu lama bahwa Indonesia merupakan Negara
dengan kapasitas middle income atau kelas menengah yang sangat besar. Namun,
untuk menopang perekonomian, golongan tersebut harus pindah ke kelas atas. Jika
tidak, Indonesia bakal terjebak dalam stagnasi kelas menengah atau meddle
income trap.
Indonesia
tengah dikejar tenggat untuk lolos dari ancaman middle income trap (MIT).
Yakni, kondisi stagnasi perekonomian dalam jangka waktu cukup lama. Situasi ini
banyak diderita kelompok Negara berkembang pendapatan menengah yang gagal
mengerek derajatnya menjadi Negara berpenghasilan tinggi.
Estimasi
OECD Development Centre, seharusnya Indonesia bisa bergabung dalam kelompok
Negara maju pada 2042. Merujuk pada klasifikasi ekonomi oleh Bank Dunia pada
2013. Criteria maju adalah Negara dengan pendapatan perkapita penduduknya di
atas USD 12 ribu atau sekitar Rp 143,8 juta per tahun.
Kecepatan
Negara-negara berkembang di Asia pun diadu. Adalah Indonesia, Tiongkok<
India, Filiphina, Thailand, dan Vietnam, yang di proyeksi bisa bergabung dalam
grup Negara maju seperti Jepang, Taiwan, dan Singapura. Merujuk pada tren
historical pertumbuhan, OECD menilai Malaysia merupakan scenario terbaik.
Negara Jiran itu diprediksi masuk kategori berpendapatan tinggi pada 2020 atau
hanya butuh tempo delapan tahun untuk keluar dari jurang MIT.
Selanjutnya,
Tiongkok dan Thailand perlu waktu 20 tahun. Masing-masing masuk kategori Negara
berpenghasilan tinggi pada 2026 dan 2031. Indonesia dengan pertumbuhan
rata-rata lebih lambat, ternyata disejajarkan dengan Filiphina. Yakni 30-40
tahun untuk mencapai high income country. Sedangkan Vietnam yang baru saja
bergabung di grup middle income, butuh waktu sekitar 45 tahun untuk menggapai
high income, yakni pada 2058. India memiliki performa yang hamper sama dengan
Vietnam.
Rentang satu
hingga dua decade untuk menjadi Negara kaya itu tentu menjadi hal singkat jika
Indonesia segera berbenah. Karena itu, untuk mencegah MIT prokduvitas memiliki
peran utama. Yakni pertama, pembenahan produktivitas tenaga kerja. Kedua,
peningkatan nilai tambah industry. Kondisi Indonesia yang terjebak di grup
lower middle income dengan pendapatan per kapita USD 2 ribu hingga USD 7.250
terjadi sejak 1990 hinggan sekarang.
Karena itu,
di butuhkan kebijakan ekonomi yang structural, dengan horizon jangka panjang
untuk memelihara pertumbuhan dan stabilitas makro. Stateginya antara lain,
menggenjot industry dengan meminimalkan sector informal yang rendah
produksi.
Soal Unas SMA Tahun Depan Tambah
Sulit
Butir-butir
soal Ujian Nasional (UNAS) 2014 diperkirakan lebih sulit dibandingkan dengan
tahun ini. Sebab, komposisi soal tidak hanya yang berkategori prediktif yang
sering dipakai di saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Ketentuan
baru itu merupakan bagian dari scenario mengawinkan antara UNAS dan seleksi
nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Hingga saat ini, komposisi
antara butir soal yang bersifat evaluative dan prediktif masih dogodok dalam
pertemuan segitiga antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),
Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MPRTNI), dan Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP).
Ketua MRPTNI
Idrus A. Paturussi mengatakan, selama ini pengawinan hasil UNAS dan SNMPTN
berjalan setengah-setengah. Nah, untuk tahun ini pengawinan antara nilai UNAS
dan SNMPTN di jalankan secara penuh. Keputusan ini sesuai dengan arahan
Mendikbud.
Dengan
system baru itu, nilai UNAS benar-benar memiliki bobot sebagai pertimbangan
kelulusan SNMPTN. Selama ini pembobotan penerimaan SNMPTN hanya berdasarkan
nilai rapor.
Idrus
menuturkan, scenario pembobotan nilai dalam SNMPTN dilakukan mulai pembuatan
butir-butir soal ujian. Selama ini seluruh materi soal unas bersifat
evaluative. Tujuannya, mengevaluasi hasil belajar siswa selama duduk di bangku
SMA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar