JABARIYAH
Diajukan untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah
AQIDAH
MI

DosenPengampu :
Uswatun
Chasanah, M.Pd.I
DisusunOleh :
Yuli Musrifatus
Sa’diah
NIM.
D77213107
KELAS 1 C
JURUSAN
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN
KEGURUAN
IAIN
SUNAN AMPEL SURABAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Munculnya berbagai kelompok teologi
dalam Islam tidak terlepas dari faktor historis yang menjadi landasan kajian.
Bermula ketika Nabi Muhammad saw wafat, riak-riak perpecahan di antara kaum
Muslim timbul kepermukaan. Perbedaan pendapat dikalangan sahabat tentang siapa
pengganti pemimpin setelah Rasul, memicu pertikaian yang tidak bisa dihindari.
Semua terbungkus dalam isu-isu yang bernuansa politik, dan kemudian berkembang
pada persoalan keyakinan tentang tuhan dengan mengikut sertakan
kelompok-kelompok mereka sebagai pemegang “predikat kebenaran”.
Perpecahan semakin meruncing ketika
pada masa pemerintahan Ali, hal yang sentral diperdebatkan adalah masalah ”Imamah”
atau kepemimpinan. Terjadinya pembunuhan Utsman ra. (17 Juni 656 M), oleh
pemberontak dari Mesir. Merupakan fase kedua sengitnya perdebatan mengenai
siapa yang benar dan siapa yang salah.[1]
Yang kemudian menjadi tema sentral
dalam pembahasan makalah ini adalah memandang “Perbuatan Manusia” dari kaca
mata Jabariyah, sebagai salah satu aliran yang pernah eksis dan menjadi
bahan perbincangan oleh banyak orang. Dan untuk memfokuskan bagi para pembaca,
maka rumusan masalah yang akan menjadi pemaparan penulis sebagai berikut.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana sejarah munculnya aliran jabariyah?
2.
Bagaimana
sekte-sekte dalam aliran Jabariyah?
3. Bagaimana ajaran pokok atau doktrin aliran
jabariyah?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1.
Sejarah Munculnya Aliran Jabariyah
Kata Jabariyah
berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam Al-Munjid di jelaskan bahwa
nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang menganndung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan
sesuatu. Kalau dikatakan, Allah mempunyai sifat Al-Jabbar (dalam
bentuk mubalaghah), itu artinya Allah
Maha Memaksa. Ungkapan al insane majbur (bentuk isim maf’ul)
mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau terpaksa. Selanjutnya, kata jabara
(bentuk pertama), setelah ditarik menjadi jabariyah (dengan menambah
yanisbah), memilki arti suatu kelompok atau aliran (isme). Dalam bahasa
Inggris, Jabariyah disebut fatalism atau predestination. Dalam
kamus Jhon M. Echols, pengertian fatalism adalah kepercayaan bahwa nasib
menguasai segala-galanya sedangkan predestination adalah takdir.[2] Sehingga makna secara umum
adalah bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan
qadar Tuhan.
Menurut
catatan sejarah, paham jabariyah ini di duga telah ada sejak sebelum agama
Islam dating ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun
pasir sahara telah memberikan pengaruh besar terhadap hidup mereka, dengan keadaan
yang sangat tidak bersahabat dengan mereka pada waktu itu. Hal ini kemudian
mendasari mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa, dan menyebabkan mereka
semata-mata tunduk dan patuh kepada kehendak Tuhan.[3]
Dalam dunia yang demikian, mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan
sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya
lemah dan tak berkuasa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang
ditimbulkan suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka banyak
tergantung pada kehendak nature.Hal ini membawa mereka pada sikap fatalistis.[4]
Faham al-jabar,
kelihatannya ditonjolkan buat pertama kali dalam sejarah teologi Islam oleh
al-Ja’d ibn Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jahm ibn Safwan dari Khurasan.
Jahm yang terrdapat dalam aliran jabariyah sama dengan Jahm yang
mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan Murji’ah sebagai sekretaris dari Syuraih
ibn al-Harits, iaturut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan
itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum bunuh
pada tahun131 H.[5]
2. Sekte-SektedalamAliranJabariyah
Di antara sekte-sekte dalam aliran jabariyah ini adalah:
a.
Jahm
bin Shafwan Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jahm
bin Safwan. Ia berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di Khufah. Ia seorang da’i
yang fasih dan lincah (otrator). Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin
Surais, seorang mawali yang menentang pemerintah Bani Umayyah di Khurasan.[6]
b. Ja’ad bin Dirham Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani
Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen
yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan
pemerintah Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang
controversial, Bani Umayyah menolaknya. Kemudian Al-Ja’ad lari ke Kufah dan di
sana ia bertemu dengan Jahm, serta mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan
dan disebarluaskan.
c. An-Najjar Nama lengkapnya adalah Husain bin
Muhammad An-Najjar (wafat 230 H). Para pengikutnya disebut An-Najjariyah atau
Al-Husainiyah. Di antara pendapat-pendapatnya adalah;
· Tidak semua
perbuatan manusia bergantung kepada Tuhan secara mutlak”.
·
Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.
d. Adh- Dhirar Nama lengkapnya adalah Dhirar bin
Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan Husein An-Najjar. Secara
tegas, Dhirar mengatakan bahwa satu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku
secara bersamaan, artinya perbuatan manusia tidak hanya ditimbulkan oleh Tuhan,
tetapi juga oleh manusia itu sendiri. Manusia turut berperan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
3.
Ajaran-Ajaran Pokok atau Doktrin Jabariyah
Adapun doktrin
Jahm tentang hal-hal yang berkaitan dengan teologi adalah;
1. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan
dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat maupun yang baik
semata-mata Allah yang menentukannya.
2. Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3. Ilmu Allah bersifat Huduts (baru).
4. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan
dalam hati.[7]
5. Allah tidak mempunyai sifat yang sama
dengan makhluk ciptaanNya.
6. Surga dan neraka tidak kekal.[8]
7. Al-qur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
8. Allah tidak dapat dilihat di surga oleh
penduduk surga.
KESIMPULAN
1.
Faham
al-jabar, kelihatannya ditonjolkan buat pertama kali dalam sejarah
teologi Islam oleh al-Ja’d ibn Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jahm ibn
Safwan dari Khurasan. Jahm yang terrdapat dalam aliran jabariyah sama
dengan Jahm yang mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan Murji’ah sebagai
sekretaris dari Syuraih ibn al-Harits,
2.
Sekte-sektedalamaliranjabariyahantara
lain:
Ø Jahm bin Shafwan
Ø Ja’ad bin Dirham
Ø An-Najjar
Ø Adh- Dhirar
3.
Ajaran-ajaranpokokataudoktrinjabariyahadalah:
Ø Manusia tidak mempunyai kebebasan dan
ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat maupun yang baik semata-mata
Allah yang menentukannya.
Ø Allah tidak mengetahui sesuatu apapun
sebelum terjadi.
Ø Ilmu Allah bersifat Huduts (baru).
Ø Iman adalah ma’rifat atau membenarkan
dalam hati.
Ø Allah tidak mempunyai sifat yang sama
dengan makhluk ciptaanNya.
Ø Surga dan neraka tidak kekal.
Ø Al-qur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
Ø Allah tidak dapat dilihat di surga oleh
penduduk surga.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, M.A, 1995, Ilmu
kalam, Filsafat, dan Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Harun Nasution, 1986, Teologi
Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press.
Jhon M.
Echols, 2006, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta:Gramedia.
K. Ali, 2000, Sejarah Islam
Tarikh Pramodern, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Taib Thakhir Abd. Mu’in, 1980, llmu
Kalam, Jakarta :Penerbit Wijaya.
[1]
K. Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern ( Cet. Ke-3 ;
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000 ), h. 132.
[2]Jhon
M. Echols, Kamus Inggris Indonesia,(Cet.XXVIII, Jakarta:Gramedia,2006),
h.234 dan 443
[3]Abuddin Nata, M.A, Ilmu kalam, Filsafat, dan Tasawuf,.
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
1995), H.40
[4]Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah
Analisa Perbandingan, ( Cet.V, Jakarta: UI Press, 1986), h.32.
[6]Ibid,
hal. 68
[7]
Ibid, h.67
[8]Taib
Thakhir Abd. Mu’in llmu Kalam (Cet.
Ke-8; Jakarta :Penerbit Wijaya, 1980 ), 102.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar