Sabtu, 15 Maret 2014

Jabariyah



JABARIYAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
AQIDAH MI

logoiain bw.jpg


DosenPengampu :
Uswatun Chasanah, M.Pd.I


DisusunOleh :
Yuli Musrifatus Sa’diah
NIM. D77213107


KELAS 1 C
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Munculnya berbagai kelompok teologi dalam Islam tidak terlepas dari faktor historis yang menjadi landasan kajian. Bermula ketika Nabi Muhammad saw wafat, riak-riak perpecahan di antara kaum Muslim timbul kepermukaan. Perbedaan pendapat dikalangan sahabat tentang siapa pengganti pemimpin setelah Rasul, memicu pertikaian yang tidak bisa dihindari. Semua terbungkus dalam isu-isu yang bernuansa politik, dan kemudian berkembang pada persoalan keyakinan tentang tuhan dengan mengikut sertakan kelompok-kelompok mereka sebagai pemegang “predikat kebenaran”.
Perpecahan semakin meruncing ketika pada masa pemerintahan Ali, hal yang sentral diperdebatkan adalah masalah ”Imamah” atau kepemimpinan. Terjadinya pembunuhan Utsman ra. (17 Juni 656 M), oleh pemberontak dari Mesir. Merupakan fase kedua sengitnya perdebatan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah.[1]
Yang kemudian menjadi tema sentral dalam pembahasan makalah ini adalah memandang “Perbuatan Manusia” dari kaca mata Jabariyah, sebagai salah satu aliran yang pernah eksis dan menjadi bahan perbincangan oleh banyak orang. Dan untuk memfokuskan bagi para pembaca, maka rumusan masalah yang akan menjadi pemaparan penulis sebagai berikut.                                                                                         
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah munculnya aliran jabariyah?
2.      Bagaimana sekte-sekte dalam aliran Jabariyah?
3.      Bagaimana ajaran pokok atau doktrin aliran jabariyah?
BAB II
PEMBAHASAN

1.      Sejarah Munculnya Aliran Jabariyah
Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam Al-Munjid di jelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang menganndung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Kalau dikatakan, Allah mempunyai sifat ­Al-Jabbar (dalam bentuk mubalaghah), itu artinya Allah Maha Memaksa. Ungkapan al insane majbur (bentuk isim maf’ul) mempunyai arti bahwa manusia dipaksa atau terpaksa. Selanjutnya, kata jabara (bentuk pertama), setelah ditarik menjadi jabariyah (dengan menambah yanisbah), memilki arti suatu kelompok atau aliran (isme). Dalam bahasa Inggris, Jabariyah disebut fatalism atau predestination. Dalam kamus Jhon M. Echols, pengertian fatalism adalah kepercayaan bahwa nasib menguasai segala-galanya sedangkan predestination adalah takdir.[2] Sehingga makna secara umum adalah bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Tuhan.
Menurut catatan sejarah, paham jabariyah ini di duga telah ada sejak sebelum agama Islam dating ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar terhadap hidup mereka, dengan keadaan yang sangat tidak bersahabat dengan mereka pada waktu itu. Hal ini kemudian mendasari mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa, dan menyebabkan mereka semata-mata tunduk dan patuh kepada kehendak Tuhan.[3] Dalam dunia yang demikian, mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tak berkuasa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang ditimbulkan suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka banyak tergantung pada kehendak nature.Hal ini membawa mereka pada sikap fatalistis.[4]
Faham al-jabar, kelihatannya ditonjolkan buat pertama kali dalam sejarah teologi Islam oleh al-Ja’d ibn Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jahm ibn Safwan dari Khurasan. Jahm yang terrdapat dalam aliran jabariyah  sama dengan Jahm yang mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan Murji’ah sebagai sekretaris dari Syuraih ibn al-Harits, iaturut dalam gerakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jahm sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum bunuh pada tahun131 H.[5]

2.    Sekte-SektedalamAliranJabariyah
Di antara sekte-sekte dalam aliran jabariyah ini adalah:
a.      Jahm bin Shafwan                                                                                     Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jahm bin Safwan. Ia berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di Khufah. Ia seorang da’i yang fasih dan lincah (otrator). Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais, seorang mawali yang menentang pemerintah Bani Umayyah di Khurasan.[6]
b.      Ja’ad bin Dirham                                                                                      Al-Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan pemerintah Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang controversial, Bani Umayyah menolaknya. Kemudian Al-Ja’ad lari ke Kufah dan di sana ia bertemu dengan Jahm, serta mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan.
c.       An-Najjar                                                                                                  Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar (wafat 230 H). Para pengikutnya disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah. Di antara pendapat-pendapatnya adalah;
·      Tidak semua perbuatan manusia bergantung kepada Tuhan secara mutlak”.
·         Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.
d.      Adh- Dhirar                                                                                              Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan Husein An-Najjar. Secara tegas, Dhirar mengatakan bahwa satu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan manusia tidak hanya ditimbulkan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri. Manusia turut berperan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
                                                                             
3.    Ajaran-Ajaran Pokok atau Doktrin Jabariyah
Adapun doktrin Jahm tentang hal-hal yang berkaitan dengan teologi adalah;
1.      Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat maupun yang baik semata-mata Allah yang menentukannya.
2.      Allah  tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3.      Ilmu Allah bersifat Huduts (baru).
4.      Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.[7]
5.      Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
6.      Surga dan neraka tidak kekal.[8]
7.      Al-qur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
8.      Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
KESIMPULAN

1.    Faham al-jabar, kelihatannya ditonjolkan buat pertama kali dalam sejarah teologi Islam oleh al-Ja’d ibn Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jahm ibn Safwan dari Khurasan. Jahm yang terrdapat dalam aliran jabariyah  sama dengan Jahm yang mendirikan golongan al-Jahmiah dalam kalangan Murji’ah sebagai sekretaris dari Syuraih ibn al-Harits,
2.   Sekte-sektedalamaliranjabariyahantara lain:
Ø Jahm bin Shafwan
Ø Ja’ad bin Dirham
Ø An-Najjar
Ø Adh- Dhirar
3.   Ajaran-ajaranpokokataudoktrinjabariyahadalah:
Ø  Manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat maupun yang baik semata-mata Allah yang menentukannya.
Ø  Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
Ø  Ilmu Allah bersifat Huduts (baru).
Ø  Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.
Ø  Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
Ø  Surga dan neraka tidak kekal.
Ø  Al-qur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
Ø  Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.







DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, M.A, 1995, Ilmu kalam, Filsafat, dan Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Harun Nasution, 1986, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press.
Jhon M. Echols, 2006, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta:Gramedia.
K. Ali, 2000, Sejarah Islam Tarikh Pramodern, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Taib Thakhir Abd. Mu’in, 1980,  llmu Kalam, Jakarta :Penerbit Wijaya.


[1] K. Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern ( Cet. Ke-3 ; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000 ), h. 132.
[2]Jhon M. Echols, Kamus Inggris Indonesia,(Cet.XXVIII, Jakarta:Gramedia,2006), h.234 dan 443
[3]Abuddin Nata, M.A, Ilmu kalam, Filsafat, dan Tasawuf,. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,   1995), H.40

[4]Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, ( Cet.V, Jakarta: UI Press, 1986), h.32.
[5]Ibid., h.33
[6]Ibid, hal. 68
[7] Ibid, h.67
[8]Taib Thakhir Abd. Mu’in llmu Kalam (Cet. Ke-8; Jakarta :Penerbit Wijaya, 1980 ), 102.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar