Rabu, 25 November 2015

Little Experience in West Papua - East Indonesian





Pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusian (Ki Hajar Dewantara). Pendidikan amat penting dalam memberikan ilmu pengetahuan beserta praktiknya dalam memajukan intektual anak bangsa.
Pendidikan menjadi wadah pembentuk karakter bangsa yang juga cerminan peradaban suatu bangsa. Pendidikan yang memadai akan menghasilkan manusia-manusia yang unggul yang dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional. Meningkatkan mutu pendidikan akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan perlu digalakkan agar kita tidak tertinggal dengan negara-negara lain yang sudah jauh lebih maju.
Indonesia sebagai satu negara berkembang di dunia masih memiliki masalah besar dalam bidang pendidikan. Pendidikan di negara ini belum mampu mencetak manusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Sumber daya manusia (SDM) yang tersedia di Indonesia belum mampu memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah ruah. Sistem pendidikan yang menjadikan siswa sebagai objek menghasilkan manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan tidak mampu bersikap kritis terhadap perkembangan zaman.
Dewasa ini sistem pendidikan di Indonesia tidak tetap, hal ini membuat para pendidik dan peserta didik kebingungan. Semestinya sistem pendidikan menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Kurikulum yang berubah-ubah akan membuat dunia pendidikan semakin buram. Kita sudah berganti beberapa kurikulum; Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK 2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006) dan terakhir Kurikulum 2013 yang pada akhirnya juga menuai kontroversi.
Kurikulum yang tidak konstan akan menuntut banyak perubahan. Saat kurikulum diubah, maka cara mengajar juga harus diubah. Para pendidik harus dibina dan diberi pelatihan terlebih dulu agar mampu beradaptasi mengajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Hal ini memerlukan biaya yang banyak serta membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga dianggap kurang efektif. Kurikulum yang didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kondisi di masyarakat akan melahirkan lulusan yang tidak kreatif.
Para lulusan hanya mampu mencari pekerjaan dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Kenyataan ini pada akhirnya membuat lulusan sarjana hanya mampu menggantungkan harapannya sebagai pengawai negeri sipil (PNS). Mutu pendidikan yang masih rendah serta sistem pendidikan yang belum memadai menjadi akar permasalahan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia dinilai belum mampu menghasilkan lulusan yang siap pakai.
Berdasarkan analisa dari Badan Pendidikan Dunia (UNESCO), kualitas para guru di Indonesian menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia Pasifik. Indonesia berada di bawah Vietnam yang negaranya baru merdeka. Untuk kemampuan membaca, Indonesia menempati posisi 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Data-data ini membuktikan bahwa pendidikan kita masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. Pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata baik.
Hal ini berkaitan dengan mutu pendidikan yang didiskripsikan dengan rendahnya sarana fisik seperti banyak gedung sekolah yang rusak, laboratorium yang di bawah standar, pemakaian teknologi yang belum memadai dan penggunaan media belajar yang rendah. Kemudian kualitas guru dinilai masih kurang, belum memiliki sikap profesionalisme yang memadai sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 UU No.20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian, dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kualitas guru serta metode pembelajaran yang kurang efektif juga menjadi satu penyebab rendahnya mutu pendidikan. Beberapa peserta didik mengeluh dengan sikap beberapa guru yang terkesan lebih mengutamakan mereka yang pintar dibandingkan mereka yang memiliki kekurangan pada intelectual question. Metode belajar yang diterapkan juga masih standar. Kenyataan ini membuat peserta didik semakin enggan untuk belajar. Sebagian para pendidik dinilai “membuat pandai mereka yang sudah pandai”, sementara yang kurang pandai semakin terpuruk dengan kebodohannya.
Di sisi lain, kasus anak-anak yang putus sekolah juga masih tinggi. Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun tidak dapat melanjutkan pendidikan yang diakibatkan oleh faktor ekonomi yang memaksa mereka bekerja untuk menambah pemasukan keluarga. Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab semakin rendahnya mutu pendidikan.
Jika ditelusuri lebih dalam, akan ditemukan berbagai masalah yang menyebabkan mutu pendidikan kita rendah. Di antaranya rendahnya sarana fisik, kesejahteraan pendidik dan biaya pendidikan yang mahal. Kesejahteraan pendidik yang rendah juga menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan. Pendapatan yang rendah akan menuntut para pendidik untuk mencari kerja sampingan untuk menambah pemasukan keluarga. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, ada yang mengajar les, menjadi tukang ojek hingga penjadi pedagang ponsel.
Berdasarkan pembukaan UUD 1945 pemerintah wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pemerintah harus peka terhadap kondisi pendidikan di setiap daerah dan dapat mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga para pendidik.
Peran pendidik sangat diperlukan untuk menghasilkan lulusan terbaik. Pendidik tidak hanya menjadi penyampai bahan ajar, namun juga sebagai motivator siswa. Pendidik harus mampu menjadi teladan bagi siswa-siswanya. Pendidik yang baik adalah ia yang tidak pernah mengeluh dengan berbagai kemampuan yang dimiliki anak didiknya. Kemampuan dan karakter peserta didik berbeda-berbeda, sehingga sangat dituntut kreativitas pendidik.
Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah mencoba mencari permasalahan penyebab siswa kurang berminat untuk belajar. Dalam hal ini sangat diharapkan keadilan pendidik dalam menyeimbangkan perhatian terhadap peserta didik. Seorang guru harus mampu menciptakan kreativitas dalam mengkomunikasikan bahan pengajaran agar peserta didik tertarik untuk mengikutinya. 
Berdasarkan faktor-faktor yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia masih kalah saing dibandingkan dengan negara-negara lain. Dengan demikian diperlukan perhatian khusus dalam menangani berbagai permasalahan terkait dengan rendahnya mutu pendidikan di negara kita. Sangat diharapkan peran aktif dan tanggung jawab pihak yang berwewenang agar kedepannya pendidikan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
BERIKUT SEDIKIT PAPARAN PENGALAMAN SAYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Selama 20 tahun ini, saya telah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia terkait dengan pengalaman dalam pendidikan. Paling banyak yaitu di beberapa kota di Jawa Timur. Yang merupakan daerah satu provinsi dengan saya. Sudah hampir 2 tahun ini saya bergabung dalam salah satu lembaga yang bertujuan untuk membangun pendidikan di Indonesia lebih maju lagi, USAID Prioritas. Saya termasuk dalam Team EGRA (Early Grade Reading Assesment) yaitu menilai kemampuan membaca anak pada kelas awal. Ada 7 Team EGRA di Indonesia yang terbagi atas beberapa provinsi, salah satunya adalah JATIM. Saya sebagai salah satu Asesor dalam kegiatan tersebut, khususnya Team EGRA JATIM. Yang mana tugas saya adalah mengambil data pada sejauh mana kemampuan anak dalam membaca dengan menggunakan aplikasi khusus untuk menilainya.
Pengambilan data dilakukan pada akhir tahun 2014 kemarin, pada wilayah JATIM ada 9 Kabupaten yang terdiri dari Banyuwangi, Situbondo, Batu, Mojokerto, Pamekasan, Lamongan, Madiun, Blitar, dan Jombang. Banyak hal baru yang saya dapatkan terutama dalam menghadapi berbagai macam karakter anak. Bagaimana cara menjadikan anak supaya tertarik dengan kita dan menuruti segala hal yang diperintahkan kepada mereka.
Namun, baru bulan September kemarin, tepatnya tanggal 17 September 2015. Selama 7 hari saya menghabiskan waktu di tanah Papua. Karena pengalaman tersebut adalah sebuah pengalaman yang menurut saya paling mengesankan, maka saya akan menceritakan sedikit perjalanan saya di tanah tersebut. Ini adalah kali pertama saya mengunjungi derah yang paling jauh dari rumah.
Kegiatan yang akan saya lakukan ini tak jauh beda dengan yang biasa saya lakukan selama bergabung dalam USAID Prioritas, yaitu menjadi Asesor EGRA. Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan yang karena wilayah Papua  tidak termasuk dalam EGRA tahun 2014. Maka Team EGRA dari pusat melaksanakannya.
Sebelum pelaksanaan untuk mengambil data, maka seperti biasa dilaksanakan kegiatan refresh terlebih dahulu, yang mana kegiatan tersebut bertujuan untuk mengingat kembali bagaimana cara kita dalam mengambil data. Karena ini memang di luar dari kehidupan saya seperti biasa yaitu di luar pulau, pastinya adat dan bahasa yang kita pakai jauh berbeda. Saya mengambil data ditemani oleh penerjemah khusus dari daerah sana, yaitu mahasiswa dari STKIP Muhammadiyah Manokwari. Mereka bertugas sebagai penerjemah jika ada anak yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Namun kondisi ini hanya berlaku pada siswa yang murni keturunan Papua, karena mereka menggunakan bahasa asli Papua dalam kesehariannya. Selain itu, juga mengatur bagaimana tatacara dalam kunjungan ke sekolah dari awal sampai akhir.
Saya melakukan kegiatan EGRA selama 3 hari di wilayah Mansel (Manokwari Selatan). Masing-masing 2 sekolah dalam satu hari, jadi saya mengambil data dalam 6 sekolah. Yaitu di SD INPRES 71 WATARIRI, SD YPK 12 ORANSBARI, SD INPRES 37 RANSIKI, SD INPRES 30 RANSIKI, SD INPRES 74 SIWI, dan SD INPRES 51 SABRI.
Sangat banyak hal yang saya temukan dalam masing-masing anak. Mulai dari kehidupan anak, bagaimana perilaku anak, bagaimana kemampuan membacanya hingga bagaimana latar belakang keluarganya yang sedikit saya mengetahui karena bertatap muka dan mewawancarai anak secara langsung.
Dalam segi kehidupan, sangatlah jauh berbeda dengan yang saya alami selama ini, yang mana dilihat dari adat pun sudah berbeda. Saya sangat menyayangkan kehidupan anak disana yang setiap hari harus menuruti apa kata orang tuanya. Jika dilihat dari perilakunya memang benar, seorang anak harus selalu menurut kepada orang tuanya. Namun, menurut disini dalam arti seorang anak sudah dibiasakan untuk bekerja sangat keras, mereka tidak mengutamakan pendidikan. Kesadaran dalam hal pendidikan sangat rendah. Bahkan saya mendengar cerita bahwa seorang anak yang tidak boleh masuk sekolah dikarenakan harus membantu orang tuanya untuk membuat kampung baru. Seorang anak yang kurang motivasi belajar karena orang tua sendiri yang kurang peduli terhadap pendidikan. Bahkan dilihat dari cara mereka berbicara dengan nada yang begitu keras. Seorang anak jika dari kecil sudah mendengar sesuatu dengan kekerasan melebihi batas, maka otak anak akan mati. Bayangkan jika hal itu dirasakan setiap hari. Oleh karena itu, mayoritas orang Papua jika berbicara selalu dengan nada keras.
Sedangkan dalam segi membaca, sangat jauh tertinggal jika dibanding dengan anak seusianya. Saya pribadi bukan menyalahkan anaknya jika tidak bisa membaca. Karena semua anak pada hakikatnya adalah tidak tahu apa-apa. Sudah sangat beruntung anak yang mempunyai niat untuk belajar, daripada yang tidak sekolah. Namun, disamping karena faktor keluarga yang tidak memotivasi sang anak untuk disiplin terhadap ilmunya. Ternyata di sekolah pun sangat kurang kondusif. Yang membuat saya sampai menggeleng-gelengkan kepala adalah bagaimana cara seorang guru dalam mendidik anaknya. Seorang guru jika mengajar hanya asal-asalan, tidak ada motivasi khusus kepada siswanya. Dari 6 sekolah yang saya kunjungi, tidak ada satu pun Sebuah perangkat pembelajaran yang semestinya dirancang masing-masing guru. Dan yang lebih parah lagi, seorang guru yang semestinya selalu tepat waktu dalam mengajar, disini malah sebaliknya. Hampir di masing-masing sekolah pasti ada seorang guru yang absen tidak masuk. Kejadian ini tidak berlangsung hanya sekali saja, tetapi sangat sering. Itulah sedikit sebab mengapa anak tidak bisa membaca.
Dari semua uraian di atas, saya mencoba mengambil hikmah dari masing-masing kejadian. Saya sangat bersyukur karena bisa merasakan bahkan mencintai dunia pendidikan, saya bisa membuka mata hati saya untuk selalu belajar dan belajar bahkan jika bisa saya yang akan mengajar. Tujuan saya untuk mencerdaskan anak didik semakin besar melihat masih banyaknya anak yang kurang terutama pada daerah yang terbelakang. Serta saya mencoba untuk memberi banyak semangat terhadap anak akan pentingnya dunia pendidikan.
Demikianlah sedikit paparan saya di tanah Papua dalam hal pendidikan. Semoga menambah wawasan kita dan menjadikan kita manusia yang selalu bersyukur. Serta semakin banyak anak muda yang mencintai dan memperkenalkan dunia pendidikan dalam kancah dunia.
Menilik dari kaca potret pendidikan kita, kita perlu merenungkan kembali salah satu aspek mendasar dari sistem pendidikan kita yakni tentang tujuan pendidikan kita. Dalam undang undang tentang sistem pendidikan nasional telah ditetapkan tujuan pendidikan nasional kita yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini yang seharusnya mewarnai orientasi pendidikan kedepan dengan berbagai turunananya, termasuk penerapan kebijakan atau model integrasinya dalam material proses pendidikan.
Output pendidikan yang beriman dan bertaqwa diharapkan memberi pengaruh secara nyata baik secara etika, hukum serta moral dan agama dalam ranah kerja yang dilaksanakan di setiap lini kehidupan. Sehingga output pendidikan yang sebenaraya tidaklah hanya lulusan yang bertitelkan sekedar formalitas gelar atau deretan angka di lembaran ijazah, akan tetapi lulusan proses pendidikan yang dapat menjadi manusia seutuhnya. Insan Sejati berkarakter kuat dan Cerdas, cakap serta bermoral.
Diharapkan pendidikan Indonesia akan mulai menggeliat menunjukkan perubahan yang lebih baik, baik dari pembenahan segi infrastruktur maupun dari kualitas pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan adalah dasar fondasi pembentukan Sumber Daya Manusia di suatu bangsa. Totalitas dari setiap elemen bangsa sangatlah diharapkan karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama, sekali lagi pendidikan tidak cukup hanya satu dua tangan saja yang bergerak, namun yang diperlukan adalah komitmen yang disinergikan dengan langkah gerak pemerintah bersama segenap elemen 210 juta jiwa rakyat bangsa indonesia untuk membangun pendidikan Indonesia menuju bangsa Indonesia yang berkualitas mandiri dan bermartabat.