Kamis, 19 Desember 2013

Percepat Pertumbuhan, Pacu Produktivitas

Sudah menjadi lagu lama bahwa Indonesia merupakan Negara dengan kapasitas middle income atau kelas menengah yang sangat besar. Namun, untuk menopang perekonomian, golongan tersebut harus pindah ke kelas atas. Jika tidak, Indonesia bakal terjebak dalam stagnasi kelas menengah atau meddle income trap.
            Indonesia tengah dikejar tenggat untuk lolos dari ancaman middle income trap (MIT). Yakni, kondisi stagnasi perekonomian dalam jangka waktu cukup lama. Situasi ini banyak diderita kelompok Negara berkembang pendapatan menengah yang gagal mengerek derajatnya menjadi Negara berpenghasilan tinggi.
            Estimasi OECD Development Centre, seharusnya Indonesia bisa bergabung dalam kelompok Negara maju pada 2042. Merujuk pada klasifikasi ekonomi oleh Bank Dunia pada 2013. Criteria maju adalah Negara dengan pendapatan perkapita penduduknya di atas USD 12 ribu atau sekitar Rp 143,8 juta per tahun.
            Kecepatan Negara-negara berkembang di Asia pun diadu. Adalah Indonesia, Tiongkok< India, Filiphina, Thailand, dan Vietnam, yang di proyeksi bisa bergabung dalam grup Negara maju seperti Jepang, Taiwan, dan Singapura. Merujuk pada tren historical pertumbuhan, OECD menilai Malaysia merupakan scenario terbaik. Negara Jiran itu diprediksi masuk kategori berpendapatan tinggi pada 2020 atau hanya butuh tempo delapan tahun untuk keluar dari jurang MIT.
            Selanjutnya, Tiongkok dan Thailand perlu waktu 20 tahun. Masing-masing masuk kategori Negara berpenghasilan tinggi pada 2026 dan 2031. Indonesia dengan pertumbuhan rata-rata lebih lambat, ternyata disejajarkan dengan Filiphina. Yakni 30-40 tahun untuk mencapai high income country. Sedangkan Vietnam yang baru saja bergabung di grup middle income, butuh waktu sekitar 45 tahun untuk menggapai high income, yakni pada 2058. India memiliki performa yang hamper sama dengan Vietnam.
            Rentang satu hingga dua decade untuk menjadi Negara kaya itu tentu menjadi hal singkat jika Indonesia segera berbenah. Karena itu, untuk mencegah MIT prokduvitas memiliki peran utama. Yakni pertama, pembenahan produktivitas tenaga kerja. Kedua, peningkatan nilai tambah industry. Kondisi Indonesia yang terjebak di grup lower middle income dengan pendapatan per kapita USD 2 ribu hingga USD 7.250 terjadi sejak 1990 hinggan sekarang.
            Karena itu, di butuhkan kebijakan ekonomi yang structural, dengan horizon jangka panjang untuk memelihara pertumbuhan dan stabilitas makro. Stateginya antara lain, menggenjot industry dengan meminimalkan sector informal yang rendah produksi.  
Soal Unas SMA Tahun Depan Tambah Sulit                               
            Butir-butir soal Ujian Nasional (UNAS) 2014 diperkirakan lebih sulit dibandingkan dengan tahun ini. Sebab, komposisi soal tidak hanya yang berkategori prediktif yang sering dipakai di saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
            Ketentuan baru itu merupakan bagian dari scenario mengawinkan antara UNAS dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Hingga saat ini, komposisi antara butir soal yang bersifat evaluative dan prediktif masih dogodok dalam pertemuan segitiga antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MPRTNI), dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
            Ketua MRPTNI Idrus A. Paturussi mengatakan, selama ini pengawinan hasil UNAS dan SNMPTN berjalan setengah-setengah. Nah, untuk tahun ini pengawinan antara nilai UNAS dan SNMPTN di jalankan secara penuh. Keputusan ini sesuai dengan arahan Mendikbud.
            Dengan system baru itu, nilai UNAS benar-benar memiliki bobot sebagai pertimbangan kelulusan SNMPTN. Selama ini pembobotan penerimaan SNMPTN hanya berdasarkan nilai rapor.

            Idrus menuturkan, scenario pembobotan nilai dalam SNMPTN dilakukan mulai pembuatan butir-butir soal ujian. Selama ini seluruh materi soal unas bersifat evaluative. Tujuannya, mengevaluasi hasil belajar siswa selama duduk di bangku SMA.

Bapak Polah Anak Kepradah

Orang tua kita adalah idola dan pahlawan sekaligus sampai di suatu saat mereka melakukan kesalahan yang “membumikan” mereka. Ternyata, orang tua kita, tak lain-tak bukan juga manusia normal  bercela dan tak  sempurna.
  Tulisan ini saya buat setelah membaca sebuah surat terbuka dari anak seseorang penyair ternama  yang dilaporkan polisi dengan sangkaan perbuatan tidak  menyanangkan sehingga menimbulkan  kehamilan  seorang mahasiswi. Surat ini di tulis si gadis dengan bijaksana dan kelapangan hati. Setidaknya terkesan begitu atau mungkin dengan kegeraman dan kekecewaan besar yang berusaha disimpan rapat-rapat.
Hidup senantiasa di susun oleh ekspetasi-ekspetasi. Anak-anak berharap bapak-ibunnya mulia, sementara bapak-ibu berharap anak-anaknya hebat. Tapi, hidup selalu disusun oleh kenyataan-kenyataan yang tidak selalu manis. Asam, sepet, pahit, sekaligus terkadang dan PR kita untuk berdamai dengan kenyataan-kenyataan.
Apa jadinya jika ternyata orang tua kita adalah manusia biasa berdosa, bersalah, gegabah?
Hubungan orang tua dan anak secara unik adalah hubungan superordinat-ordinat. Dalam hal ini, orang tua merasa bertanggung jawab untuk memberikan pedoman, contoh, menjadi benar, dan menjauhi salah. Anak di ujung yang lain di wajibkan patuh, menurut, dan percaya.
Saat orang tua ternyata berbuat salah, lalu bagaimana?. Hormat dan respek bingung memilih posisi. Hendak di dudukkan dimana?. Di titik “membuminya” para mantan idola dan pahlawan ini, sebenarnya apa yang terjadi?. Badai emosional. Anak-anak di paksa dewasa dengan terkejut, menerima kenyataan orang tuanya ternyata Cuma manusia. Entah salah, entah khilaf, entah memang tak pernah sempurna. Orang tua dipaksa menelan egonya. Kehilangan hak istimewa untuk dipija tanpa cela.
Akhirnya. Hubungan orang tua dan anak sampai pada tahap yang lebih sejajar, hubungan antara satu manusia dengan manusia lain. Bukan lagi hubungan sebab akibat, superordinat-subordinat. Bicara dari hati ke hati tanpa batas bahwa siapa lebih benar daripada yang lain, siapa lebih tau, lebih tua dari yang lain.
Ada kecewa yang sangat besar yang harus di telan bulat-bulat. Kedua pihak, yang mengecewakan dan di kecewakan, sebaiknya berbesar hati. Orang tua mungkin akan hilang muka. Semoga keduanya tak memilih jalan saling merusak atas nama gengsi. Anak yang berhenti meng-orangtua-kan orang tuanya dan orang tua yang tidak mengakui kesalahannya. Sebab, sok benar gak akan menyelesaikan apapun. Apalagi kesalahan orang tua membawa rentetan konsekuensi panjang: nama baik, utang, tanggungan non-material seperti, adik baru atau ibu baru.
Ada orang tua yang marah-marah sambil melotot di berita tv karena membiarkan rumah istri mudanya di tabraki teman perempuannya. Ada juga yang suka transfer-transfer ke rekening penyanyi dangdut, menyimpan obat kuat dan ganja di laci, ketahuan saat tertangkap tangan KPK. Bersabarlah orang tua manusia biasa mungkin giliran, “Bapak polah anak kepradah”.
           








Garda Hidupku

“Ikuti mimpi anda karena mimpi itu memberikan tujuan dalam hidup anda”. Seuntai kalimat tersebut telah dirasakan oleh sesosok anak muda yang tengah menjalani kehidupannya. Yang penuh dengan lika-liku. Begitu banyak pengalaman-pengalaman yang telah ia temukan.
Sebut saja Yuli, yang memiliki nama panjang Yuli Musrifatus Sa’diah. 18 tahun sudah ia berada dalam dunia fana ini. Itu artinya ia dalam proses menuju gerbang kedewasaan. Namun, apakah ia sudah merasakan kalau akan menjadi dewasa?.
Kembali pada secarik kata di awal tadi, bahwa ia menjalani hidup karena berawal dari ia bermimpi. Bermimpi untuk menjadi yang terbaik bagi hidupnya dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Terutama yang pernah hadir di kehidupannya. Dan mimpi itu telah ia tancapkan di waktu dia masih kanak-kanak.
Terutama saat ia kenal dan berkecimung dalam dunia pendidikan. Berkat sosok para guru yang senantiasa sabar dan bijaksanalah, ia menyelesaikan sekolah Taman Kanak-kanaknya di desanya sendiri selama 2 tahun, yakni TK Miftahul Ulum yang berada di Kesamben Wetan. Juga MI Miftahul Ulum selama 6 tahun yang lulus pada tahun 2007. Kemudian ia melanjutkan ke SMPN 1 Driyorejo selama 3 tahun dan lulus pada tahun 2010. Setelah itu, ia melanjutkan ke SMA Al-Azhar yang ada di Menganti. Yang juga hidup menetap dalam lingkungan pesantren selama 3 tahun.
Pada SMA inilah ia lebih menemukan dan bisa menjawab bahwa siapa dirinya yang sebenarnya. Sedikit demi sedikir ia mulai mengembangkan mimpi-mimpi itu. Ia merupakan sosok anak yang bisa dibilang cerdas, karena ia selalu mengklarifikasi apa saja yang telah ia alami. Dan sangat peka terhadap sesuatu yang belum pernah ia alami sebelunya.
Bahkan ia pernah menulis dalam buku agendanya, bahwa:
Kehidupan akan menjadi mudah bila kita hadapi dengan usaha yang di iringi dengan do’a.
Kehidupan akan menjadi sulit bila kita meremehkannya.
Manusia hidup bukan untuk di matikan, tapi manusia hidup untuk memilih nasib.
Jika kita berbuat baik maka, kebaikan pula yang kita dapatkan.
Dan jika kita berbuat buruk maka, keburukanlah yang kita dapatkan.
            Manusia mungkin diciptakan dengan fisik yang tidak sempurna.
            Tapi manusia diciptakan dengan hati yang sempurna.
            Ikutilah kata hatimu, maka kamu akan dapatkan kebahagiaan.
            Meski yang awalnya begitu menyakitkan.
            So, always spirit to be the best.
Ia percaya jika ia hidup berarti ia harus beraniberperang. Ia harus berani melawan godaan-godaan dalam hidup yang akan menjadikan ia sukses.
Kini ia sedang menyelesaikan studinya di sebuah kampus yang independen, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Untuk itu ia akan terus melakukan pergerakan dalam hidupnya. Karena mottonya adalah “Where there is the will, there is the way”.