Sabtu, 15 Maret 2014

Perkembangan Bahasa Indonesia dan Bahasa Ibu Masa Kini



Ungkapan “bahasa sebagai cermin kepribadian bangsa” patut kita jadikan sebagai bahan renungan. Patut diingat bahwa setiap bahasa yang hidup memiliki keunikan dan potensi sebagai penjaga norma, adat istiadat, sopan santun, dan alat komunikasi yang efektif bagi penuturnya. Bahasa merupakan unsur yang sangat vital dalam berkomunikasi, yakni sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam melaksanakan hubungan sosial dengan sesamanya, manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad – abad silam.
Salah satunya adalah bahasa  Ibu dan bahasa Indonesia. Yang merupakan bahasa kebangsaan orang Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasanya. Bahasa bagi bangsa Indonesia tentu saja bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan dan bahasa resmi dan bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu.
            Bahasa indonesia yaitu bahasa yang hakikatnya merupakan bahasa dalam kategori bahasa melayu yang kemudian di jadikan sebagai bahasa resmi Republik Indonesia. Dan juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa nasional di negara kita. Maka dari itu, banyak aturan-aturan maupun tata cara dalam penggunaannya. Untuk menentukan bahwa suatu bahasa itu sudah menjadi bahasa yang baik dan benar. Lebih tepatnya dapat di katakan sebagai bahasa yang efektif. Bahasa efektif adalah bahasa yang telah di katakan bahasa yang sempurna.
            Sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pendidikan serta pengembangan keilmuan, bahasa indonesia memerlukan pengembangan kata dan istilah. Kekayaan kata suatu bahasa mengindikasikan kemajuan peradaban bangsa. Seiring perkembangan waktu, bahasa indonesia menunjukkan perkembangan.
            Dewasa ini kedudukan bahasa indonesia semakin terkikis. Mengapa demikian,karena dapat kita lihat bagaimana penggunaan bahasa oleh muda-mudi saat ini.Sering kita dengar orang berkata bahwa berbahasa itu yang terpenting adalah orang yang kita ajak bicara dapat memahami informasi yang kita sampaikan, dan tidak harus menggunakan bahasa yang baik dan benar sebagaimana yang diatur dalam kamus besar bahasa Indonesia. Sebenarnya apa hakikat dari bahasa itu sendiri, menurut Abdul dan Leonie (2004:11) “bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan”.Banyak orang tidak terlalu memperhatikan bahasa, karena bahasa itu sendiri memang telah melekat pada diri kita sejak kita lahir, sama halnya ketika kita tidak memperhatikan saat kita bernafas. Para linguis struktural menganggap bahwa bahasa sebagai sekedar bunyi yang bersistem.Tapi kini orang memandang bahwa bahasa itu bukan sekedar bunyi, melainkan sebagai fungsinya yaitu alat komunikasi.
Bahasa Indonesia adalah  bahasa yang terpenting di negara kita, peranan dari bahasa indonesia itu sendiri bersumber dari ikrar  Sumpah Pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 yang berbunyi “Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatuan,bahasa Indonesia.” Dan pada undang-undang dasar 1945 tercantum pasal yang menyatakan bahwa “bahasa negara adalah bahasa indonesia”.
Selain itu adalah bahasa memang difungsikan sebagai pemersatu untuk berbagai suku di Indonesia. Tetapi sayangnya bahasa Indonesia sekarang mulai menyimpang  dari tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena telah terkontaminasi oleh bahasa asing, sehingga terbentuk suatu bahasa baru, biasanya dalam kalangan anak muda disebut sebagai bahasa “gaul” ,bahasa ini mulai dikenal dan digunakan sekitar tahun 1970.
Awalnya bahasa ini dikenal sebagai “bahasanya anak jalanan / bahasa preman” karena biasanya digunakan oleh para Prokem (sebutan untuk para preman) sebagai kata sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok smereka sendiri. Belakangan bahasa ini menjadi populer dan banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Memang “masa remaja ditinjau dari perkembangannya merupakan masa kehidupan manusia yang paling menarik dan mengesankan. Ciri ini tercermin dari bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif membuat mereka menciptakan bahasa rahasia yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka saja.Seperti contohnya adalah ayah dan ibu yang mereka sebut dengan “BONYOK” yang merupakan singkatan dari “Bokap dan Nyokap”.Yang sebenarnya bahasa tersebut berasal dari kalangan pencopet, bandit dan sejenisnya. Selain bahasa gaul, muncul juga bahasa SMS (Short Message Service), sesuai dengan artinya maka penulisannya pun akan disingkat, contohnya adalah ia(iya),OTW(On The Way) dan masih banyak yang lainnya. Atau bahasa alay (anak layangan) yang bisa diartikan dengan “anak kampung”.Contohnya adalah “cemunguth(semangat),mu’uph (maaf)”. Akan tetapi, meskipun mereka menyebutnya kampungan, mulai dari kalangan anak-anak,remaja, dewasa bahkan ada juga orang tua yang menggunakannya.Tumbuh persepsi pada diri mereka bahwa jika tidak menggunakan bahasa tersebut merupakan orang yang “norak” atau ketinggalan jaman.Memang perkembangan bahasa Indonesia sulit untuk dicegah karena memang bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah untuk berkembang.Dan sebenarnya bahasa gaul juga merupakan efek dari perkembangan Bahasa Indonesia itu sendiri.Terjadinya perubahan bahasa tidak dapat diamati,sebab perubahan itu sudah menjadi sifat hakiki bahasa, berlangsung dalam masa yang relatif lama. Seperti halnya kita tidak dapat melihat adanya perbedaan bahasa sebelum diselenggarakannya ikrar Sumpah Pemuda dengan sehari setelah terjadinya kongres,. Perubahan itu baru bisa dilihat jauh setelah terjadinya kongres tersebut.
Tetapi perubahan bahasa Indonesia  saat ini,tidak seperti perubahan bahasa Indonesia dahulu yang memang berasal dari kata serapan akibatnya pun yang awalnya fungsi bahasa Indonesia juga sebagai jati diri bangsa, sekarang cuma sebagai ‘yang penting nyambung’ dari setiap komunikasi yang terjadi.
            Berbeda dari itu, bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang di pelajari oleh seseorang. Biasanya seorang anak yang belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka yaitu dari keluarga mereka. Kepandaian dalam berbahasa ini sangat penting untuk proses belajat berikutnya, karena bahasa ibu di anggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi sulit.
            Bahasa ibu selalu berhubungan dengan suku / etnis dari mana individu berasal, termasuk keturunan. Dan masing-masing tergantung dengan lingkungan sosial tempat dia berada. Pada masa prasekolah, anak sudah dapat menemukan bahasa-bahasanya dalam berkomunikasi. Seiring bertambahnya umur, maka perkembangan bahasanya juga bertambah. Anak-anak harus sering dilatih kemampuan berbahasanya bagi perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa ibu mempunyai peranan penting dalam perkembangan bahasa Indonesia, karena anak terlebih dahulu mengenal danmenggunakan bahasa ibu dalam berkomunikasi.
Ada sebuah istilah yang mengatakan “Ibu adalah pendidik yang pertama dan utama”. Dari istilah tersebut, dapat kita ambil gambaran bahwa bahasa anak mencerminkan pendidikan orang tua terhadapnya. Anak tidak dapat belajar sendiri dari bahasa yang dia peroleh. Anak memerlukan bimbingan dan  pengawasan yang ketat dari orang tua. Ketika anak baru lahir atau dalam usia 5 sampai 6 bulan, orang tua mengenalkannya dengan dua bahasa, yaitu ayah dan ibu. Orang tua memberikan pengertian kepada anaknya tentang sebutan untuk ayah dan ibu. Sejak saat itu, anak terus dikenalkan bahasa-bahasa dari kosa kata baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Ketika anak sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebaya ataupun dengan lingkungannya, maka secara otomatis dia menemukan bahasa baru dari hasil sosialisasinya itu, Kemudian bahasa itu dia bawa ke dalam rumah. Jika tidak ada penyaringan bahasa dari orang tuanya terhadap bahasa yang didapatnya, maka sangat memungkinkan bahasa yang kurang pantas bagi anak akan terserap ke dalam memorinya. Dalam waktu jangka panjang bisa saja anak menerapkan bahasa yang didapatnya dari hasil sosialisasinya itu.
Oleh sebab itu, pengontrolan yang dilakukan orang tua terhadap bahasa pada anak harus dilakukan secermat mungkin, agar bahasa-bahasa negatif yang dia peroleh dari hasil sosialisasinya itu tidak dapat terserap ke dalam memorinya. Orang tua juga harus memberikan contoh kepada anak dalam menggunakan bahasa yang baik. Baik itu bahasa ibu maupun bahasa Indonesia, agar bahasa yang dipakai anak akan terasa santun dalam bertutur, tidak hanya untuk masa kini, melainkan untuk masa ketika dia telah dewasa. 
            Namun, yang terjadi sekarang ini bahasa gaul atau yang kita kenal sebagai bahasa prokem telah mendominasi bahasa pada anak-anak. Mereka lebih sering menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi daripada menggunakan menggunakan bahasa ibu, terlebih bahasa Indonesia. Pada umumnya, mereka hanya mengetahui apa yang mereka ucapkan ketika berkomunikasi, bahkan mereka sering mengaitkan antara bahasa ibu dengan bahasa Indonesia. Mereka mengganggap benar, ketika mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ibu dan dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam tidak formal.
            Perlu kita perhatikan di dalam bidang pendidikan penggunaan bahasa sebagai bahasa indonesia itu sangat penting dan akan mempengaruhi suatu pendidikan tersebut. Di negara kita sendiri, penggunaan bahasa asing contohnya bahasa inggris sudah mulai diperkenalkan kepada siswa-siswi sekolah dasar dengan alasan guna menunjang kemampuan siswa-siswi tersebut belajar dalam berbahasa sejak dini. Apalagi dengan pendidikan yang sudah bertaraf internasional, bahasa asing sebagai pengantar sehari-hari itu sudah wajib digunakan. Bila kita tinjau, ini bisa menjadi proses pembinasaan Bahasa Indonesia secara terselubung. Sudah selayaknya institusi pendidikan di Indonesia mengedepankan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dengan pengucapan baik dan benar. Setidaknya pengaplikasian pengucapan yang baik dalam percakapan sehari-hari.    
Di era globalisasi ini banyak bahasa atau kata-kata aneh bermunculan, biasanya bahasa ini didominasi oleh kalangan remaja hingga menjalar kalangan anak-anak bahkan bisa saja ke kalangan orang tua. Munculnya bahasa seperti bahasa gaul, alay, dan sebagainya, digunakan oleh kalangan pemuda sebagai trend dalam berbahasa sehari-hari. Media pun turut berperan penting, seperti elektronik, cetak, internet, dan lain-lain. Semua orang bebas mengekspresikan dirinya melalui kata-kata yang mereka suka yang sesuai dengan keadaan orang tersebut. Bisa kita bayangkan jika kita salah mengekspresikan diri dengan menggunakan bahasa yang seenaknya, tentunya itu merupakan hal yang tidak wajar dan tidak etis sebagai Bangsa Indonesia yang mempunyai Bahasa Indonesia yang satu.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 80% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.Salah satu aspek terpenting dari semua bahasa ini adalah pengaruh dari keragaman budaya dari masing-masing individu.
Keanekaragaman budaya dan bahasa daerah mempunyai peranan dan pengaruh terhadap bahasa yang akan diperoleh seseorang pada tahapan berikutnya, khususnya bahasa formal atau resmi yaitu bahasa Indonesia. Sebagai contoh, seorang anak memiliki ibu yang berasal dari daerah Sekayu sedangkan ayahnya berasal dari daerah Pagaralam dan keluarga ini hidup di lingkungan orang Palembang. Dalam mengucapkan sebuah kata misalnya “mengapa”, sang ibu yang berasal dari Sekayu mengucapkannya ngape (e dibaca kuat) sedangkan bapaknya yang dari Pagaralam mengucapkannya ngape (e dibaca lemah) dan di lingkungannya kata “mengapa” diucapkan ngapo. Ketika sang anak mulai bersekolah, ia mendapat seorang teman yang berasal dari Jawa dan mengucapkan “mengapa” dengan ngopo. Hal ini dapat menimbulkan kebinggungan bagi sang anak untuk memilih ucapan apa yang akan digunakan.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keanekaragaman budaya dan bahasa daerah merupakan keunikan tersendiri bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan yang harus dilestarikan. Dengan keanekaragaman ini akan mencirikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan kebudayaannya. Berbedannya bahasa di tiap-tiap daerah menandakan identitas dan ciri khas masing-masing daerah. Masyarakat yang merantau ke ibukota Jakarta mungkin lebih senang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah dengan orang berasal dari daerah yang sama, salah satunya dikarenakan agar menambah keakraban diantara mereka. Tidak jarang pula orang mempelajari sedikit atau hanya bisa-bisaan untuk berbahasa daerah yang tidak dikuasainya agar terjadi suasana yang lebih akrab. Beberapa kata dari bahasa daerah juga diserap menjadi Bahasa Indonesia yang baku, antara lain kata nyeri (Sunda) dan kiat (Minangkabau).
      Pada bahasa-bahasa daerah di Indonesia juga terdapat beberapa kata yang sama dalam tulisan dan pelafalan tetapi memiliki makna yang berbeda, berikut beberapa contohnya:
1.Suwek dalam bahasa Sekayu (Sumsel) bermakna tidak ada.
Suwek dalam bahasa Jawa bermakna sobek.
2. Kenek dalam bahasa Batak bermakna kernet (pembantu sopir).
Kenek dalam bahasa Jawa bermakna kena.
3. Abang dalam bahasa Batak dan Jakarta bermakna kakak.
Abang dalam bahasa Jawa bermakna merah.
4. Mangga dalam bahasa Indonesia bermakna buah mangga.
Mangga dalam bahasa Sunda bermakna silakan.
5. Maen dalam bahasa Indonesia bermakna bermain.
Maen dalam bahasa Batak bermakna gadis.
6.  Gedang dalam bahasa Sunda bermakna pepaya.
Gedang dalam bahasa Jawa bermakna pisang.
7.  Cungur dalam bahasa Sunda bermakna sejenis kikil.
Cungur dalam bahasa Jawa bermakna hidung.
8.  Jagong dalam bahasa Sunda bermakna jagung.
Jagong dalam bahasa Jawa bermakna duduk.
9. Nini dalam bahasa Sunda bermakna nenek.
Nini dalam bahasa Batak bermakna anak dari cucu laki-laki.
10. Tulang dalam bahasa Indonesia bermakna tulang.
Tulang dalam bahasa Batak bermakna abang atau adik dari ibu.
Melalui beberapa contoh itu ternyata penggunaan bahasa daerah memiliki tafsiran yang berbeda dengan bahasa lain. Jika hal tersebut digunakan dalam situasi formal seperti seminar, lokakarya, simposium, proses belajar mengajar yang pesertanya beragam daerahnya akan memiliki tafsiran makna yang beragam. Oleh karena itu, penggunaan bahasa daerah haruslah pada waktu, tempat, situasi, dan kondisi yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar