Ungkapan “bahasa sebagai cermin kepribadian bangsa” patut kita jadikan sebagai bahan renungan. Patut diingat bahwa setiap bahasa yang hidup memiliki keunikan dan potensi sebagai penjaga norma, adat istiadat, sopan santun, dan alat komunikasi yang efektif bagi penuturnya. Bahasa merupakan unsur yang sangat vital dalam berkomunikasi, yakni sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam melaksanakan hubungan sosial dengan sesamanya, manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad – abad silam.
Salah
satunya adalah bahasa Ibu
dan bahasa Indonesia. Yang merupakan bahasa kebangsaan
orang Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasanya.
Bahasa bagi bangsa Indonesia tentu saja bahasa Indonesia sebagai bahasa
pergaulan dan bahasa resmi dan bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu.
Bahasa indonesia yaitu bahasa yang
hakikatnya merupakan bahasa dalam kategori bahasa melayu yang kemudian di
jadikan sebagai bahasa resmi Republik Indonesia. Dan juga merupakan bahasa
persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa nasional di
negara kita. Maka dari itu, banyak aturan-aturan maupun tata cara dalam
penggunaannya. Untuk menentukan bahwa suatu bahasa itu sudah menjadi bahasa
yang baik dan benar. Lebih tepatnya dapat di katakan sebagai bahasa yang efektif.
Bahasa efektif adalah bahasa yang telah di katakan bahasa yang sempurna.
Sebagai bahasa resmi dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pendidikan serta pengembangan keilmuan, bahasa
indonesia memerlukan pengembangan kata dan istilah. Kekayaan kata suatu bahasa
mengindikasikan kemajuan peradaban bangsa. Seiring perkembangan waktu, bahasa
indonesia menunjukkan perkembangan.
Dewasa ini kedudukan bahasa indonesia semakin terkikis.
Mengapa demikian,karena dapat kita lihat bagaimana penggunaan bahasa oleh muda-mudi
saat ini.Sering kita dengar orang berkata bahwa berbahasa itu yang
terpenting adalah orang yang kita ajak bicara dapat memahami informasi yang
kita sampaikan, dan tidak harus menggunakan bahasa yang baik dan benar
sebagaimana yang diatur dalam kamus besar bahasa Indonesia. Sebenarnya apa
hakikat dari bahasa itu sendiri, menurut Abdul dan Leonie (2004:11) “bahasa
adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan”.Banyak orang tidak terlalu
memperhatikan bahasa, karena bahasa itu sendiri memang telah melekat pada diri
kita sejak kita lahir, sama halnya ketika kita tidak memperhatikan saat kita
bernafas. Para linguis struktural menganggap bahwa bahasa sebagai sekedar bunyi
yang bersistem.Tapi kini orang memandang bahwa bahasa itu bukan sekedar bunyi,
melainkan sebagai fungsinya yaitu alat komunikasi.
Bahasa
Indonesia adalah bahasa yang terpenting di negara kita, peranan dari
bahasa indonesia itu sendiri bersumber dari ikrar Sumpah Pemuda pada
tanggal 28 oktober 1928 yang berbunyi “Kami poetera dan poeteri Indonesia
mendjoendjoeng bahasa persatuan,bahasa Indonesia.” Dan pada undang-undang dasar
1945 tercantum pasal yang menyatakan bahwa “bahasa negara adalah bahasa
indonesia”.
Selain
itu adalah bahasa memang difungsikan sebagai pemersatu untuk berbagai suku di
Indonesia. Tetapi sayangnya bahasa Indonesia sekarang mulai menyimpang
dari tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena telah terkontaminasi
oleh bahasa asing, sehingga terbentuk suatu bahasa baru, biasanya dalam
kalangan anak muda disebut sebagai bahasa “gaul” ,bahasa ini mulai dikenal dan
digunakan sekitar tahun 1970.
Awalnya
bahasa ini dikenal sebagai “bahasanya anak jalanan / bahasa preman” karena
biasanya digunakan oleh para Prokem (sebutan untuk para preman) sebagai kata
sandi yang hanya dimengerti oleh kelompok smereka sendiri. Belakangan bahasa
ini menjadi populer dan banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Memang
“masa remaja ditinjau dari perkembangannya merupakan masa kehidupan manusia
yang paling menarik dan mengesankan. Ciri ini tercermin dari bahasa mereka.
Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif membuat mereka menciptakan bahasa
rahasia yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka saja.Seperti contohnya
adalah ayah dan ibu yang mereka sebut dengan “BONYOK” yang merupakan singkatan
dari “Bokap dan Nyokap”.Yang sebenarnya bahasa tersebut berasal dari kalangan
pencopet, bandit dan sejenisnya. Selain bahasa gaul, muncul juga bahasa SMS
(Short Message Service), sesuai dengan artinya maka penulisannya pun akan
disingkat, contohnya adalah ia(iya),OTW(On The Way) dan masih banyak yang
lainnya. Atau
bahasa alay (anak layangan) yang bisa diartikan dengan “anak kampung”.Contohnya
adalah “cemunguth(semangat),mu’uph (maaf)”. Akan tetapi, meskipun mereka
menyebutnya kampungan, mulai dari kalangan anak-anak,remaja, dewasa bahkan ada
juga orang tua yang menggunakannya.Tumbuh persepsi pada diri mereka bahwa jika tidak
menggunakan bahasa tersebut merupakan orang yang “norak” atau ketinggalan
jaman.Memang perkembangan bahasa Indonesia sulit untuk dicegah karena memang
bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah untuk berkembang.Dan sebenarnya
bahasa gaul juga merupakan efek dari perkembangan Bahasa Indonesia itu sendiri.Terjadinya
perubahan bahasa tidak dapat diamati,sebab perubahan itu sudah menjadi sifat
hakiki bahasa, berlangsung dalam masa yang relatif lama. Seperti halnya kita
tidak dapat melihat adanya perbedaan bahasa sebelum diselenggarakannya ikrar
Sumpah Pemuda dengan sehari setelah terjadinya kongres,. Perubahan itu baru
bisa dilihat jauh setelah terjadinya kongres tersebut.
Tetapi
perubahan bahasa Indonesia saat ini,tidak seperti perubahan bahasa
Indonesia dahulu yang memang berasal dari kata serapan akibatnya pun yang
awalnya fungsi bahasa Indonesia juga sebagai jati diri bangsa, sekarang cuma
sebagai ‘yang penting nyambung’ dari setiap komunikasi yang terjadi.
Berbeda dari itu, bahasa ibu
merupakan bahasa pertama yang di pelajari oleh seseorang. Biasanya seorang anak
yang belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka yaitu dari keluarga mereka.
Kepandaian dalam berbahasa ini sangat penting untuk proses belajat berikutnya,
karena bahasa ibu di anggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang
dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi
sulit.
Bahasa ibu selalu berhubungan dengan
suku / etnis dari mana individu berasal, termasuk keturunan. Dan masing-masing
tergantung dengan lingkungan sosial tempat dia berada. Pada masa prasekolah, anak sudah dapat menemukan bahasa-bahasanya dalam
berkomunikasi. Seiring bertambahnya umur, maka perkembangan bahasanya juga
bertambah. Anak-anak harus sering dilatih kemampuan berbahasanya bagi
perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa ibu mempunyai peranan penting dalam
perkembangan bahasa Indonesia, karena anak terlebih dahulu mengenal
danmenggunakan bahasa ibu dalam berkomunikasi.
Ada sebuah istilah yang mengatakan “Ibu
adalah pendidik yang pertama dan utama”. Dari istilah tersebut, dapat kita
ambil gambaran bahwa bahasa anak mencerminkan pendidikan orang tua terhadapnya.
Anak tidak dapat belajar sendiri dari bahasa yang dia peroleh. Anak memerlukan
bimbingan dan pengawasan yang ketat dari orang tua. Ketika anak baru
lahir atau dalam usia 5 sampai 6 bulan, orang tua mengenalkannya dengan dua
bahasa, yaitu ayah
dan ibu. Orang
tua memberikan pengertian kepada anaknya tentang sebutan untuk ayah dan ibu. Sejak saat itu, anak terus
dikenalkan bahasa-bahasa dari kosa kata baru yang belum pernah mereka dengar
sebelumnya.
Ketika anak sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebaya
ataupun dengan lingkungannya, maka secara otomatis dia menemukan bahasa baru dari
hasil sosialisasinya itu, Kemudian bahasa itu dia bawa ke dalam rumah. Jika tidak ada
penyaringan bahasa dari orang tuanya terhadap bahasa yang didapatnya, maka
sangat memungkinkan bahasa yang kurang pantas bagi anak akan terserap ke dalam
memorinya. Dalam waktu jangka panjang bisa saja anak menerapkan bahasa yang didapatnya
dari hasil sosialisasinya itu.
Oleh sebab itu, pengontrolan yang dilakukan orang tua
terhadap bahasa pada anak harus dilakukan secermat mungkin, agar bahasa-bahasa
negatif yang dia peroleh dari hasil sosialisasinya itu tidak dapat terserap ke
dalam memorinya. Orang tua juga harus memberikan contoh kepada anak dalam
menggunakan bahasa yang baik. Baik itu bahasa ibu maupun bahasa Indonesia, agar
bahasa yang dipakai anak akan terasa santun dalam bertutur, tidak hanya untuk
masa kini, melainkan untuk masa ketika dia telah dewasa.
Namun, yang terjadi sekarang ini
bahasa gaul atau yang kita kenal sebagai bahasa prokem telah mendominasi bahasa
pada anak-anak. Mereka lebih sering menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi
daripada menggunakan menggunakan bahasa ibu, terlebih bahasa Indonesia. Pada
umumnya, mereka hanya mengetahui apa yang mereka ucapkan ketika berkomunikasi,
bahkan mereka sering mengaitkan antara bahasa ibu dengan bahasa Indonesia.
Mereka mengganggap benar, ketika mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa
ibu dan dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam tidak formal.
Perlu kita perhatikan di dalam bidang pendidikan penggunaan
bahasa sebagai bahasa indonesia itu sangat penting dan akan mempengaruhi suatu
pendidikan tersebut. Di negara kita sendiri, penggunaan bahasa asing contohnya
bahasa inggris sudah mulai diperkenalkan kepada siswa-siswi sekolah dasar dengan alasan guna
menunjang kemampuan siswa-siswi tersebut belajar dalam berbahasa sejak dini. Apalagi dengan
pendidikan yang sudah bertaraf internasional, bahasa asing sebagai pengantar
sehari-hari itu sudah wajib digunakan. Bila kita tinjau, ini bisa menjadi
proses pembinasaan Bahasa Indonesia secara terselubung. Sudah selayaknya
institusi pendidikan di Indonesia mengedepankan Bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar dengan pengucapan baik dan benar. Setidaknya pengaplikasian
pengucapan yang baik dalam percakapan sehari-hari.
Di era globalisasi ini banyak bahasa
atau kata-kata aneh bermunculan, biasanya bahasa ini didominasi oleh kalangan
remaja hingga menjalar kalangan anak-anak bahkan bisa saja ke kalangan orang
tua. Munculnya bahasa seperti bahasa gaul, alay, dan sebagainya, digunakan oleh
kalangan pemuda sebagai trend dalam berbahasa sehari-hari. Media pun turut
berperan penting, seperti elektronik, cetak, internet, dan lain-lain. Semua
orang bebas mengekspresikan dirinya melalui kata-kata yang mereka suka yang
sesuai dengan keadaan orang tersebut.
Bisa kita bayangkan jika kita salah mengekspresikan diri dengan menggunakan
bahasa yang seenaknya, tentunya itu merupakan hal yang tidak wajar dan tidak
etis sebagai Bangsa Indonesia yang mempunyai Bahasa Indonesia yang satu.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 80%
warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa
ibu bagi kebanyakan
penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748
bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa
ibu.Penutur Bahasa
Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari atau mencampuradukkan dengan
dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia
digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat
lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,sehingga
dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.Salah
satu aspek terpenting dari semua bahasa ini adalah pengaruh dari keragaman
budaya dari masing-masing individu.
Keanekaragaman budaya dan bahasa daerah mempunyai peranan
dan pengaruh terhadap bahasa yang akan diperoleh seseorang pada tahapan
berikutnya, khususnya bahasa formal atau resmi yaitu bahasa Indonesia. Sebagai
contoh, seorang anak memiliki ibu yang berasal dari daerah Sekayu sedangkan
ayahnya berasal dari daerah Pagaralam dan keluarga ini hidup di lingkungan
orang Palembang. Dalam mengucapkan sebuah kata misalnya “mengapa”, sang ibu
yang berasal dari Sekayu mengucapkannya ngape (e dibaca kuat) sedangkan
bapaknya yang dari Pagaralam mengucapkannya ngape (e dibaca lemah) dan di
lingkungannya kata “mengapa” diucapkan ngapo. Ketika sang anak mulai
bersekolah, ia mendapat seorang teman yang berasal dari Jawa dan mengucapkan
“mengapa” dengan ngopo. Hal ini dapat menimbulkan kebinggungan bagi sang anak
untuk memilih ucapan apa yang akan digunakan.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keanekaragaman
budaya dan bahasa daerah merupakan keunikan tersendiri bangsa Indonesia dan
merupakan kekayaan yang harus dilestarikan. Dengan keanekaragaman ini akan
mencirikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan kebudayaannya. Berbedannya
bahasa di tiap-tiap daerah menandakan identitas dan ciri khas masing-masing
daerah. Masyarakat yang merantau ke ibukota Jakarta mungkin lebih senang
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah dengan orang berasal dari daerah
yang sama, salah satunya dikarenakan agar menambah keakraban diantara mereka.
Tidak jarang pula orang mempelajari sedikit atau hanya bisa-bisaan untuk
berbahasa daerah yang tidak dikuasainya agar terjadi suasana yang lebih akrab.
Beberapa kata dari bahasa daerah juga diserap menjadi Bahasa Indonesia yang
baku, antara lain kata nyeri (Sunda) dan kiat (Minangkabau).
Pada bahasa-bahasa daerah di Indonesia juga terdapat
beberapa kata yang sama dalam tulisan dan pelafalan tetapi memiliki makna yang
berbeda, berikut beberapa contohnya:
1.Suwek dalam bahasa Sekayu (Sumsel)
bermakna tidak ada.
Suwek dalam bahasa Jawa bermakna sobek.
Suwek dalam bahasa Jawa bermakna sobek.
2. Kenek dalam bahasa Batak
bermakna kernet (pembantu sopir).
Kenek dalam bahasa Jawa bermakna kena.
Kenek dalam bahasa Jawa bermakna kena.
3. Abang dalam bahasa Batak dan
Jakarta bermakna kakak.
Abang dalam bahasa Jawa bermakna merah.
Abang dalam bahasa Jawa bermakna merah.
4. Mangga
dalam bahasa Indonesia bermakna buah mangga.
Mangga dalam bahasa Sunda bermakna silakan.
Mangga dalam bahasa Sunda bermakna silakan.
5. Maen
dalam bahasa Indonesia bermakna bermain.
Maen dalam bahasa Batak bermakna gadis.
Maen dalam bahasa Batak bermakna gadis.
6. Gedang
dalam bahasa Sunda bermakna pepaya.
Gedang dalam bahasa Jawa bermakna pisang.
Gedang dalam bahasa Jawa bermakna pisang.
7. Cungur
dalam bahasa Sunda bermakna sejenis kikil.
Cungur dalam bahasa Jawa bermakna hidung.
Cungur dalam bahasa Jawa bermakna hidung.
8. Jagong
dalam bahasa Sunda bermakna jagung.
Jagong dalam bahasa Jawa bermakna duduk.
Jagong dalam bahasa Jawa bermakna duduk.
9. Nini
dalam bahasa Sunda bermakna nenek.
Nini dalam bahasa Batak bermakna anak dari cucu laki-laki.
Nini dalam bahasa Batak bermakna anak dari cucu laki-laki.
10. Tulang
dalam bahasa Indonesia bermakna tulang.
Tulang dalam bahasa Batak bermakna abang atau adik dari ibu.
Tulang dalam bahasa Batak bermakna abang atau adik dari ibu.
Melalui beberapa contoh itu ternyata penggunaan bahasa
daerah memiliki tafsiran yang berbeda dengan bahasa lain. Jika hal tersebut
digunakan dalam situasi formal seperti seminar, lokakarya, simposium, proses
belajar mengajar yang pesertanya beragam daerahnya akan memiliki tafsiran makna
yang beragam. Oleh karena itu, penggunaan bahasa daerah haruslah pada waktu,
tempat, situasi, dan kondisi yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar