MAKALAH
Pengantar Studi
Islam
![]() |
Tasawuf
OLEH:
Ø WAHYU
LUPITA SARI (D77213106)
Ø YULI
MUSRIFATUS SA’DIAH (D77213107)
Ø ZULI ANGGRAINI (D77213108)
Dosen
Pengampu:
Sulthon
Mas’ud, M.Pd.I
KELAS 1 C
JURUSAN
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
IAIN SUNAN
AMPEL SURABAYA
2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT, karna atas rahmatnya kami dapat menyusun makalah
ini. Makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas PENGANTAR STUDI ISLAM. Selain itu juga untuk menambah
pengetahuan bagi para pembaca.
Dalam
makalah ini para pembaca diharapkan dapat mengetahui tentang.”Pengertian dan tujuan dalam
ilmu tasawuf”. Kami tahu bahwa dalam membuat makalah
ini tidaklah mudah,tanpa mengakses dari internet dan media lainnya kami tidak
dapat menyusun makalah ini dengan baik.
Kami
menyadari bahwa makalah
ini masih banyak mengalami kekurangan baik isi,
penggunaan kata dan ejaan
yang kurang sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Harapan
kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
TIM
PENYUSUN
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Definisi tasawuf dirumuskan oleh para ulama’ dengan sangat bervariasi, jumlahnya mencapai ratusan. Dengan banyaknya ragam definisi tersebut tidak berarti menunjukkan adanya kontrafiksi antara pengertian tasawuf yang satu dengan yang lain. Hal itu disebabkan karena tasawuf pada hakekatnya merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga masing-masing individu memiliki kecenderungan dan pengalaman spiritual yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengalaman tasawuf mereka. Amin al-Kurdi, berpendapat bahwa tasawuf adalah suatu ilmu yang berpendapat tentang kebaikan dan keburukan jiwa, bagaimana cara membersihkan sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji, serta bagaimana jalan menuju keridhahan Allah.
Demikianlah sekilas tentang definisi
tasawuf menurut Amin al-Kurdi, dengan ini pada hakekatnya tasawuf mengarah pada
satu titik, yakni mencapai derajat sedekat-dekatnya kepada Allah. Dalam hal ini
Zaki Ibrahim menjelaskan, hakikat tasawuf diibaratkan sebuah taman indah yang
didalamnya terdapat banyak pohon, setiap sufi tersebut bertedung dibawah
masing-masing pohon didalam taman itu, kemudian masing-masing sufi memberikan
gambaran sifat pohon yang ia berada dibawahnya.Dalam hal ini gambaran diatas
bersifat saling melengkapi dan secara jelas tidak terdapat kontroversi antara
satu dengan yang lainnya. Serta, tasawuf dapat bertujuan untuk mencapai
ma’rifatullah (mengenal Allah) dengan sebenar-benar nya dan tersingkatnya
dinding (hijab) yang membatasi diri dengan Allah.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian tasawuf?
2.
Apa saja objek dalam tasawuf?
3.
Apa saja sumber dan dasar-dasar tasawuf?
4.
Bagaimana hakikat tentang tasawuf?
C.
Tujuan dan Manfaat
1.
Untuk mengetahui pengertian tasawuf.
2.
Untuk menghidupkan
ilmu-ilmu agama islam utamanya yang berkenaan dengan kepribadian dan kerohanian
islam.
3.
Agar terwujud efisiensi masa studi diperguruan tinggi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengetian Tasawuf
Tasawuf pada hakikatnya merupakan pengalaman pribadi
seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga masing-masing individu memiliki
kecenderungan dan pengalaman spiritual yang berbeda-beda sesuai dengan level
tasawufnya. Oleh karenanya, wajar apabila setiap ulama’ sufi dalam menjelaskan
arti atau definisi tasawuf sesuai konteks pemikiran dan pengalaman
keberagamannya, berdasarkan intuisi msing-masing individu berbeda satu dengan
yang lainnya.
Setiap sufi pun memiliki cara berbeda-beda dalam
mengekspresikan pengalaman batin/ mistik/ spiritual dalam kehidupan
beragamanya.
Berikut ini adalah
beberapa bagian dari definisi-definisi tasawuf yang di aturkan oleh para sufi
ataupun pakar tasawuf.
1. Al-Ghazali
di dalam kitabnya, al-Munqidz min
ad-Dhalal, menulis bahwa para sufi adalah mereka yang menempuh jalan Allah,
yang berakhlak tinggi nan bersih, bahkan juga berjiwa cemerlang lagi bijaksana.
2. Radim
bin Ahmad al-Baghdadi berpendapat, tasawuf memiliki tiga elemen penting, yaitu
faqr, rela berkorban dan meninggalkan kebatilan.
3. Al-Junaid
mendefinisikan bahwa tasawuf sebagai “an-Takuna
ma’a Allah bi-la ‘alaqah”, hendaknya engkau bersama-sama dengan Allah tanpa
adanya hijab.
4. Samnun
berpendirian bahwa tasawuf adalah an-tamlika
syai’an wa la yamlikuka syai’un, hendaknya engkau merasa tidak memiliki
sesuatu dan sesuatu itu pun tidak menguasaimu.
5. Ibnu
Jala berpandangan bahwa tasawuf adalah apa yang menjadi esensi, dan tidak ada
suatu formalitas apapun baginya.
Demikianlah beberapa definisi para sufi yang sepintas
berbeda, namun pada hakikatnya adalah mengarah ke satu titik, yakni mencapai
derajat sedekat-dekatnya kepada Allah.
Definisi terakhir yang menggambarkan tasawuf sebagai sebuah
pengalaman batin atau mistik akan memberikan asumsi bahwa tasawuf merupakan
topic berdimensi batin manusia dan dengannyalah manusia dapat merasakan
Tuhannya hadir.
Semua manusia dalam beragam agama, filsafat, dan pandangan
hidupnya, adalah makhluk yang memiliki potensi pengalaman mistik, batin atau
esoteric sehingga memerlukan kecerahannya agar dapat mewujudkan hakekat dirinya
yang sesungguhnya. Mistik islam inilah yang sebenarnya di sebut dengan tasawuf.
B. Objek Ilmu Tasawuf
Dari paparan definisi tasawuf di atas, sesungguhnya dapat
di pahami, bahwa wilayah kerja tasawuf adalah aspek spiritual/rohani atau aspek
esoteric yang ada dalam ajaran islam. Oleh karenanya, kadang-kadang oleh
sebagian pengamat, para sufi tersebut di katakan sebagai ahl al-bawatin (kaum kebatinan), dengan alasan bahwa mereka amat
berorientasi kearah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha dalam
menangkap makna dari suatu teks ajaran agama.
Sebagai ilmu yang memperhatikan aspek-aspek esoteris,
tasawuf menempati posisi yang sangat signifikan dalam ajaran agama islam. Di
dalam ilmu tasawuf ini dapat dicapai esensi ajaran agama islam yang
bersumberkan dari teks-teks suci, al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagai akibatnya,
manusia di tuntut memiliki pemahaman yang utuh, komprehensif dan rasional dalam
memahami teks-teks suci tersebut, tidak sekedar pemahaman tekstual dalam
legal-formal saja.
Dengan demikian, maka kita akan mudah menjadi muslim
berkualitas, yang implementasinya dapat terlihat dalam tataran kehidupan
sosialnya. Seorang muslim yang ideal adalah muslim yang berkualitas dan
memberikan dampak positif bagi lingkungannya, kapan pun dan dimana pun berada.
C. Sumber dan Dasar-Dasar Tasawuf
Kalimat tasawuf secara tekstual tidak termaktub dalam
al-Qur’an atau as-Sunnah, namun di dalam kedua
sumber suci tersebut syarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran moral yang memberi
bimbingan serta mengarahkan hidup seorang muslim supaya menjadi baik dalam
pandangan Allah dan manusia, sebagaimana yang telah di praktikkan oleh para
sufi selama ini.
Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mendorong
manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, seperti ayat yang
memerintahkan agar manusia selalu mensucikan jiwanya, ayat-ayat yang memandang
rendah kehidupan duniawi dan menjelaskan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih
baik. Selain itu, al-Qur’an juga mendeskripsika sifat-sifat orang wara’ dan
takwa, posisi mulia bagi yang melaksanakan sholat tahajjud, dan masih banyak
ayat-ayat sejenis yang member petunjuk kepada manusia agar supaya mulia
hidupnya di dunia dan selamat ketika di akhirat kelak.
Ajaran-ajaran al-Qur’an yang demikian itulah sebenarnya
yang telah member inspirasi bagi para sufi untuk melahirkan ajaran-ajaran dan
konsepsi tasawuf yang kemudian menjadi esensi bagi ajaran-ajaran sufi. Dalam
konteks historis, Nabi Muhammad saw telah memberikan teladan secara konkret
dalam mengaplikasikan kehidupan yang bernuansa tasawuf sebagaimana yang di
ajarkan al-Qur’an, walaupun pada masa itu, istilah tasawuf belum ada.
Kebersahajaan Nabi dalam kehidupan sehari-hari dan interaksinya dengan
keluarga, para sahabat, para tetangga dan dengan para lawannya yang sangat baik
adalah menjadi rujukan dan inspirasi para sufi setelah al-Qur’an, dalam
upaya-upaya mencapai ridha Allah di tengah kehidupan yang fana ini.
Demikianlah dasar-dasar ajaran tasawuf dalam islam, selain
secara subtantif tercantum di dalam kitab suci al-Qur’an, juga secara gambling
di contohkan langsung oleh Rasulullah, maka kemudian di implementasikan oleh
generasi sesudahnya, para sahabat, tabi’in,
kemudian tabi’in-tabi’in serta
segenap umat islam berikutnya sampai sekarang. Selanjutnya semua bahan tersebut
secara konseptual telah di kembangkan oleh para sufi. Oleh karena itu, maka
kiranya tidak berlebihan jika ada ungkapan yang menyatakan, bahwa jika seorang
muslim tidak melaksanakan amalan-amalan tasawuf, maka ia belum dapat di sebut
sebagai muslim ideal.
D. Hakikat Tasawuf
Secara hakiki, manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu
ruh, akal, dan jasad. Menurut al-Qur’an, kemuliaan manusia di banding makhluk
lain adalah karena manusia memiliki unsur ruh ilahi. Ruh yang dinisbahkan
kepada Allah swt. Ruh ilahi inilah yang menjadikan manusia memiliki sisi
kehidupan rohani yang dapat diistilahkan dengan makna tasawuf, dimana
kecondongan ini juga di miliki oleh semua manusia dalam setiap agama, karena
perasaan itu memang merupakan fitrah
manusia.
Secara umum, dapatlah diibaratkan
bahwa tasawuf itu semakna dengan filsafat kehidupan dan metode khusus sebagai
jalan manusia untuk mencapai akhlak sempurna, menyingkap hakikat dan kebahagiaan
jiwa. Sementara, yang membedakan antara sufi satu dengan sufi lainnya adalah
tata cara riyadah-nya (latihan) yang kadang tidak luput dari pengaruh luar.
Tasawuf pada mulanya, merupakan bagian dari ajaran zuhud
dalam islam, yaitu yang mengandung makna konsen secara penuh untuk menghambakan
diri kepada Allah awt. Melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah. Seiring
dengan semakin jauhnya dari zaman Rasulullah saw, maka semakin banyak pula
aliran-aliran tasawuf berkembang.
Di mulai dari banyaknya perbedaan metode yang di gunakan
oleh masing-masing aliran hingga akhirnya menjadikan tasawuf sebagai sebuah
ajaran tersendiri yang terpisah dari zuhud. Kemudian tasawuf menjadi sebuah
aliran yang memiliki makna khusus, di karenakan kekhususan praktek ajaran yang di
tempuhnya. Tasawuf sebagai sebuah institusi pendidikan, dimana masing-masing
lembaga memiliki peraturan atau metode yang berbeda-beda antara yang satu
dengan yang lainnya dalam menggembleng para muridnya untuk bertaqarrub kepada
Allah swt.
Dari pengertian ini, maka tidak setiap
ahli ibadah dapat di sebut sufi, tapi sufi di harapkan menjadi ahli ibadah.
Juga tidak setiap orang yang berakhlak mulia dapat di sebut sebagai sufi, tapi
sufi di harapkan memiliki akhlak mulia. Para ulama sufi sepakat bahwa dalam ajaran
tasawuf orang bisa di sebut sufi manakala ia telah masuk ke dalam suatu aliran
tertentu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Tasawuf pada hakikatnya
merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga
masing-masing individu memiliki kecenderungan dan pengalaman spiritual yang
berbeda-beda sesuai dengan level tasawufnya.
2.
Sebagai ilmu yang
memperhatikan aspek-aspek esoteris, tasawuf menempati posisi yang sangat
signifikan dalam ajaran agama islam. Di dalam ilmu tasawuf ini dapat dicapai
esensi ajaran agama islam yang bersumberkan dari teks-teks suci, al-Qur’an dan
as-Sunnah. Sebagai akibatnya, manusia di tuntut memiliki pemahaman yang utuh,
komprehensif dan rasional dalam memahami teks-teks suci tersebut, tidak sekedar
pemahaman tekstual dalam legal-formal saja.
3.
Kalimat tasawuf secara
tekstual tidak termaktub dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, namun di dalam kedua sumber suci
tersebut syarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran moral yang memberi bimbingan
serta mengarahkan hidup seorang muslim supaya menjadi baik dalam pandangan
Allah dan manusia, sebagaimana yang telah di praktikkan oleh para sufi selama
ini.
4.
Secara hakiki, manusia
terdiri dari tiga unsur utama, yaitu ruh, akal, dan jasad. Menurut al-Qur’an,
kemuliaan manusia di banding makhluk lain adalah karena manusia memiliki unsur
ruh ilahi. Ruh yang dinisbahkan kepada Allah swt.
B. SARAN
Dengan adanya makalah ini, diharapkan
pada mahasiswa agar lebih mudah memahami secara mendalam tentang hal-hal
yang berkaitan dengan materi tasawuf ini.
Dalam makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan dan kekhilafan oleh karena itu, kepada para pembaca dan
para pakar utama penulis mengharapkan saran dan kritik ataupun tegur sapa yang
sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati demi kesempurnaan makalah
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al
Aziz Senali Moh Saifullah, Drs., Tasawuf
dan Jalan Hidup Para Wali, Putra Pelajar, Gresik, 2000.
HAMKA, Prof. DR, Tashawuf Modern, Pustaka Panji Mas, 1987
Tim Penyusun MKD IAIN Surabaya, SAP,
Surabaya, 2012.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar