Sabtu, 15 Maret 2014

Tasawuf



MAKALAH
Pengantar Studi Islam



Tasawuf

OLEH:
Ø  WAHYU LUPITA SARI (D77213106)
Ø  YULI MUSRIFATUS SA’DIAH (D77213107)
Ø  ZULI ANGGRAINI (D77213108)

Dosen Pengampu:
Sulthon Mas’ud, M.Pd.I
KELAS 1 C
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2013

KATA PENGANTAR


     Puji syukur kehadirat Allah SWT, karna atas rahmatnya kami dapat menyusun makalah ini. Makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu  tugas PENGANTAR STUDI ISLAM. Selain itu juga untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca.
     Dalam makalah ini para pembaca diharapkan dapat mengetahui tentang.”Pengertian dan tujuan dalam ilmu tasawuf”. Kami tahu bahwa dalam membuat makalah ini tidaklah mudah,tanpa mengakses dari internet dan media lainnya kami tidak dapat menyusun makalah ini dengan baik.
     Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak mengalami kekurangan baik isi, penggunaan kata dan ejaan yang kurang sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
     Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

                                                            TIM PENYUSUN










DAFTAR ISI








BAB I

PENDAHULUAN

       
A.  Latar Belakang                                                                                                                        Definisi tasawuf dirumuskan oleh para ulama’ dengan sangat bervariasi, jumlahnya mencapai ratusan. Dengan banyaknya ragam definisi tersebut tidak berarti menunjukkan adanya kontrafiksi antara pengertian tasawuf yang satu dengan  yang  lain. Hal itu disebabkan karena tasawuf pada hakekatnya merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga masing-masing individu memiliki kecenderungan dan pengalaman spiritual yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengalaman tasawuf mereka. Amin al-Kurdi, berpendapat bahwa tasawuf adalah suatu ilmu yang berpendapat tentang kebaikan dan keburukan jiwa, bagaimana cara membersihkan sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji, serta bagaimana jalan menuju keridhahan Allah.
Demikianlah sekilas tentang definisi tasawuf menurut Amin al-Kurdi, dengan ini pada hakekatnya tasawuf mengarah pada satu titik, yakni mencapai derajat sedekat-dekatnya kepada Allah. Dalam hal ini Zaki Ibrahim menjelaskan, hakikat tasawuf diibaratkan sebuah taman indah yang didalamnya terdapat banyak pohon, setiap sufi tersebut bertedung dibawah masing-masing pohon didalam taman itu, kemudian masing-masing sufi memberikan gambaran sifat pohon yang ia berada dibawahnya.Dalam hal ini gambaran diatas bersifat saling melengkapi dan secara jelas tidak terdapat kontroversi antara satu dengan yang lainnya. Serta, tasawuf dapat bertujuan untuk mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah) dengan sebenar-benar nya dan tersingkatnya dinding (hijab) yang membatasi diri dengan Allah.

B. Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian tasawuf?
2.    Apa saja objek dalam tasawuf?
3.    Apa saja sumber dan dasar-dasar tasawuf?
4.    Bagaimana hakikat tentang tasawuf?


C. Tujuan dan Manfaat

1.    Untuk mengetahui pengertian tasawuf.
2.     Untuk menghidupkan ilmu-ilmu agama islam utamanya yang berkenaan dengan kepribadian dan kerohanian islam.
3.    Agar terwujud efisiensi masa studi diperguruan tinggi.


















BAB II

PEMBAHASAN


A.     Pengetian Tasawuf

          Tasawuf pada hakikatnya merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga masing-masing individu memiliki kecenderungan dan pengalaman spiritual yang berbeda-beda sesuai dengan level tasawufnya. Oleh karenanya, wajar apabila setiap ulama’ sufi dalam menjelaskan arti atau definisi tasawuf sesuai konteks pemikiran dan pengalaman keberagamannya, berdasarkan intuisi msing-masing individu berbeda satu dengan yang lainnya.
          Setiap sufi pun memiliki cara berbeda-beda dalam mengekspresikan pengalaman batin/ mistik/ spiritual dalam kehidupan beragamanya.
Berikut ini adalah beberapa bagian dari definisi-definisi tasawuf yang di aturkan oleh para sufi ataupun pakar tasawuf.
1.      Al-Ghazali di dalam kitabnya, al-Munqidz min ad-Dhalal, menulis bahwa para sufi adalah mereka yang menempuh jalan Allah, yang berakhlak tinggi nan bersih, bahkan juga berjiwa cemerlang lagi bijaksana.
2.      Radim bin Ahmad al-Baghdadi berpendapat, tasawuf memiliki tiga elemen penting, yaitu faqr, rela berkorban dan meninggalkan kebatilan.
3.      Al-Junaid mendefinisikan bahwa tasawuf sebagai “an-Takuna ma’a Allah bi-la ‘alaqah”, hendaknya engkau bersama-sama dengan Allah tanpa adanya hijab.
4.      Samnun berpendirian bahwa tasawuf adalah an-tamlika syai’an wa la yamlikuka syai’un, hendaknya engkau merasa tidak memiliki sesuatu dan sesuatu itu pun tidak menguasaimu.
5.      Ibnu Jala berpandangan bahwa tasawuf adalah apa yang menjadi esensi, dan tidak ada suatu formalitas apapun baginya.
          Demikianlah beberapa definisi para sufi yang sepintas berbeda, namun pada hakikatnya adalah mengarah ke satu titik, yakni mencapai derajat sedekat-dekatnya kepada Allah.
          Definisi terakhir yang menggambarkan tasawuf sebagai sebuah pengalaman batin atau mistik akan memberikan asumsi bahwa tasawuf merupakan topic berdimensi batin manusia dan dengannyalah manusia dapat merasakan Tuhannya hadir.
          Semua manusia dalam beragam agama, filsafat, dan pandangan hidupnya, adalah makhluk yang memiliki potensi pengalaman mistik, batin atau esoteric sehingga memerlukan kecerahannya agar dapat mewujudkan hakekat dirinya yang sesungguhnya. Mistik islam inilah yang sebenarnya di sebut dengan tasawuf.

B.     Objek Ilmu Tasawuf

          Dari paparan definisi tasawuf di atas, sesungguhnya dapat di pahami, bahwa wilayah kerja tasawuf adalah aspek spiritual/rohani atau aspek esoteric yang ada dalam ajaran islam. Oleh karenanya, kadang-kadang oleh sebagian pengamat, para sufi tersebut di katakan sebagai ahl al-bawatin (kaum kebatinan), dengan alasan bahwa mereka amat berorientasi kearah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha dalam menangkap makna dari suatu teks ajaran agama.
          Sebagai ilmu yang memperhatikan aspek-aspek esoteris, tasawuf menempati posisi yang sangat signifikan dalam ajaran agama islam. Di dalam ilmu tasawuf ini dapat dicapai esensi ajaran agama islam yang bersumberkan dari teks-teks suci, al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagai akibatnya, manusia di tuntut memiliki pemahaman yang utuh, komprehensif dan rasional dalam memahami teks-teks suci tersebut, tidak sekedar pemahaman tekstual dalam legal-formal saja.
          Dengan demikian, maka kita akan mudah menjadi muslim berkualitas, yang implementasinya dapat terlihat dalam tataran kehidupan sosialnya. Seorang muslim yang ideal adalah muslim yang berkualitas dan memberikan dampak positif bagi lingkungannya, kapan pun dan dimana pun berada.

C.     Sumber dan Dasar-Dasar Tasawuf

          Kalimat tasawuf secara tekstual tidak termaktub dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, namun di dalam kedua sumber suci tersebut syarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran moral yang memberi bimbingan serta mengarahkan hidup seorang muslim supaya menjadi baik dalam pandangan Allah dan manusia, sebagaimana yang telah di praktikkan oleh para sufi selama ini.
          Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang mendorong manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, seperti ayat yang memerintahkan agar manusia selalu mensucikan jiwanya, ayat-ayat yang memandang rendah kehidupan duniawi dan menjelaskan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik. Selain itu, al-Qur’an juga mendeskripsika sifat-sifat orang wara’ dan takwa, posisi mulia bagi yang melaksanakan sholat tahajjud, dan masih banyak ayat-ayat sejenis yang member petunjuk kepada manusia agar supaya mulia hidupnya di dunia dan selamat ketika di akhirat kelak.
          Ajaran-ajaran al-Qur’an yang demikian itulah sebenarnya yang telah member inspirasi bagi para sufi untuk melahirkan ajaran-ajaran dan konsepsi tasawuf yang kemudian menjadi esensi bagi ajaran-ajaran sufi. Dalam konteks historis, Nabi Muhammad saw telah memberikan teladan secara konkret dalam mengaplikasikan kehidupan yang bernuansa tasawuf sebagaimana yang di ajarkan al-Qur’an, walaupun pada masa itu, istilah tasawuf belum ada. Kebersahajaan Nabi dalam kehidupan sehari-hari dan interaksinya dengan keluarga, para sahabat, para tetangga dan dengan para lawannya yang sangat baik adalah menjadi rujukan dan inspirasi para sufi setelah al-Qur’an, dalam upaya-upaya mencapai ridha Allah di tengah kehidupan yang fana ini.
          Demikianlah dasar-dasar ajaran tasawuf dalam islam, selain secara subtantif tercantum di dalam kitab suci al-Qur’an, juga secara gambling di contohkan langsung oleh Rasulullah, maka kemudian di implementasikan oleh generasi sesudahnya, para sahabat, tabi’in, kemudian tabi’in-tabi’in serta segenap umat islam berikutnya sampai sekarang. Selanjutnya semua bahan tersebut secara konseptual telah di kembangkan oleh para sufi. Oleh karena itu, maka kiranya tidak berlebihan jika ada ungkapan yang menyatakan, bahwa jika seorang muslim tidak melaksanakan amalan-amalan tasawuf, maka ia belum dapat di sebut sebagai muslim ideal.

D.    Hakikat Tasawuf

          Secara hakiki, manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu ruh, akal, dan jasad. Menurut al-Qur’an, kemuliaan manusia di banding makhluk lain adalah karena manusia memiliki unsur ruh ilahi. Ruh yang dinisbahkan kepada Allah swt. Ruh ilahi inilah yang menjadikan manusia memiliki sisi kehidupan rohani yang dapat diistilahkan dengan makna tasawuf, dimana kecondongan ini juga di miliki oleh semua manusia dalam setiap agama, karena perasaan itu  memang merupakan fitrah manusia.
          Secara umum, dapatlah diibaratkan bahwa tasawuf itu semakna dengan filsafat kehidupan dan metode khusus sebagai jalan manusia untuk mencapai akhlak sempurna, menyingkap hakikat dan kebahagiaan jiwa. Sementara, yang membedakan antara sufi satu dengan sufi lainnya adalah tata cara riyadah-nya (latihan) yang kadang tidak luput dari pengaruh luar.
          Tasawuf pada mulanya, merupakan bagian dari ajaran zuhud dalam islam, yaitu yang mengandung makna konsen secara penuh untuk menghambakan diri kepada Allah awt. Melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah. Seiring dengan semakin jauhnya dari zaman Rasulullah saw, maka semakin banyak pula aliran-aliran tasawuf berkembang.
          Di mulai dari banyaknya perbedaan metode yang di gunakan oleh masing-masing aliran hingga akhirnya menjadikan tasawuf sebagai sebuah ajaran tersendiri yang terpisah dari zuhud. Kemudian tasawuf menjadi sebuah aliran yang memiliki makna khusus, di karenakan kekhususan praktek ajaran yang di tempuhnya. Tasawuf sebagai sebuah institusi pendidikan, dimana masing-masing lembaga memiliki peraturan atau metode yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya dalam menggembleng para muridnya untuk bertaqarrub kepada Allah swt.
          Dari pengertian ini, maka tidak setiap ahli ibadah dapat di sebut sufi, tapi sufi di harapkan menjadi ahli ibadah. Juga tidak setiap orang yang berakhlak mulia dapat di sebut sebagai sufi, tapi sufi di harapkan memiliki akhlak mulia. Para ulama sufi sepakat bahwa dalam ajaran tasawuf orang bisa di sebut sufi manakala ia telah masuk ke dalam suatu aliran tertentu.










BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

1.      Tasawuf pada hakikatnya merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga masing-masing individu memiliki kecenderungan dan pengalaman spiritual yang berbeda-beda sesuai dengan level tasawufnya.
2. Sebagai ilmu yang memperhatikan aspek-aspek esoteris, tasawuf menempati posisi yang sangat signifikan dalam ajaran agama islam. Di dalam ilmu tasawuf ini dapat dicapai esensi ajaran agama islam yang bersumberkan dari teks-teks suci, al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagai akibatnya, manusia di tuntut memiliki pemahaman yang utuh, komprehensif dan rasional dalam memahami teks-teks suci tersebut, tidak sekedar pemahaman tekstual dalam legal-formal saja.
3. Kalimat tasawuf secara tekstual tidak termaktub dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, namun di dalam kedua sumber suci tersebut syarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran moral yang memberi bimbingan serta mengarahkan hidup seorang muslim supaya menjadi baik dalam pandangan Allah dan manusia, sebagaimana yang telah di praktikkan oleh para sufi selama ini.
4.      Secara hakiki, manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu ruh, akal, dan jasad. Menurut al-Qur’an, kemuliaan manusia di banding makhluk lain adalah karena manusia memiliki unsur ruh ilahi. Ruh yang dinisbahkan kepada Allah swt.

B.     SARAN

Dengan adanya makalah ini, diharapkan pada mahasiswa agar lebih mudah memahami secara mendalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi tasawuf ini.
Dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekhilafan oleh karena itu, kepada para pembaca dan para pakar utama penulis mengharapkan saran dan kritik ataupun tegur sapa yang sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati demi kesempurnaan makalah selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA


Al Aziz Senali Moh Saifullah, Drs., Tasawuf dan Jalan Hidup Para Wali, Putra Pelajar, Gresik, 2000.

HAMKA, Prof. DR, Tashawuf Modern, Pustaka Panji Mas, 1987

Tim Penyusun MKD IAIN Surabaya, SAP, Surabaya, 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar