Orang tua kita adalah idola dan
pahlawan sekaligus sampai di suatu saat mereka melakukan kesalahan yang
“membumikan” mereka. Ternyata, orang tua kita, tak lain-tak bukan juga manusia
normal bercela dan tak sempurna.
Tulisan ini saya buat setelah membaca sebuah surat terbuka dari anak
seseorang penyair ternama yang
dilaporkan polisi dengan sangkaan perbuatan tidak menyanangkan sehingga menimbulkan kehamilan
seorang mahasiswi. Surat ini di tulis si gadis dengan bijaksana dan
kelapangan hati. Setidaknya terkesan begitu atau mungkin dengan kegeraman dan
kekecewaan besar yang berusaha disimpan rapat-rapat.
Hidup senantiasa di susun oleh
ekspetasi-ekspetasi. Anak-anak berharap bapak-ibunnya mulia, sementara
bapak-ibu berharap anak-anaknya hebat. Tapi, hidup selalu disusun oleh
kenyataan-kenyataan yang tidak selalu manis. Asam, sepet, pahit, sekaligus
terkadang dan PR kita untuk berdamai dengan kenyataan-kenyataan.
Apa jadinya jika ternyata orang tua
kita adalah manusia biasa berdosa, bersalah, gegabah?
Hubungan orang tua dan anak secara
unik adalah hubungan superordinat-ordinat. Dalam hal ini, orang tua merasa
bertanggung jawab untuk memberikan pedoman, contoh, menjadi benar, dan menjauhi
salah. Anak di ujung yang lain di wajibkan patuh, menurut, dan percaya.
Saat orang tua ternyata berbuat
salah, lalu bagaimana?. Hormat dan respek bingung memilih posisi. Hendak di
dudukkan dimana?. Di titik “membuminya” para mantan idola dan pahlawan ini,
sebenarnya apa yang terjadi?. Badai emosional. Anak-anak di paksa dewasa dengan
terkejut, menerima kenyataan orang tuanya ternyata Cuma manusia. Entah salah,
entah khilaf, entah memang tak pernah sempurna. Orang tua dipaksa menelan
egonya. Kehilangan hak istimewa untuk dipija tanpa cela.
Akhirnya. Hubungan orang tua dan anak
sampai pada tahap yang lebih sejajar, hubungan antara satu manusia dengan
manusia lain. Bukan lagi hubungan sebab akibat, superordinat-subordinat. Bicara
dari hati ke hati tanpa batas bahwa siapa lebih benar daripada yang lain, siapa
lebih tau, lebih tua dari yang lain.
Ada kecewa yang sangat besar yang
harus di telan bulat-bulat. Kedua pihak, yang mengecewakan dan di kecewakan,
sebaiknya berbesar hati. Orang tua mungkin akan hilang muka. Semoga keduanya
tak memilih jalan saling merusak atas nama gengsi. Anak yang berhenti
meng-orangtua-kan orang tuanya dan orang tua yang tidak mengakui kesalahannya.
Sebab, sok benar gak akan menyelesaikan apapun. Apalagi kesalahan orang tua
membawa rentetan konsekuensi panjang: nama baik, utang, tanggungan non-material
seperti, adik baru atau ibu baru.
Ada orang tua yang marah-marah sambil
melotot di berita tv karena membiarkan rumah istri mudanya di tabraki teman
perempuannya. Ada juga yang suka transfer-transfer ke rekening penyanyi
dangdut, menyimpan obat kuat dan ganja di laci, ketahuan saat tertangkap tangan
KPK. Bersabarlah orang tua manusia biasa mungkin giliran, “Bapak polah anak
kepradah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar