Kamis, 19 Desember 2013

Bapak Polah Anak Kepradah

Orang tua kita adalah idola dan pahlawan sekaligus sampai di suatu saat mereka melakukan kesalahan yang “membumikan” mereka. Ternyata, orang tua kita, tak lain-tak bukan juga manusia normal  bercela dan tak  sempurna.
  Tulisan ini saya buat setelah membaca sebuah surat terbuka dari anak seseorang penyair ternama  yang dilaporkan polisi dengan sangkaan perbuatan tidak  menyanangkan sehingga menimbulkan  kehamilan  seorang mahasiswi. Surat ini di tulis si gadis dengan bijaksana dan kelapangan hati. Setidaknya terkesan begitu atau mungkin dengan kegeraman dan kekecewaan besar yang berusaha disimpan rapat-rapat.
Hidup senantiasa di susun oleh ekspetasi-ekspetasi. Anak-anak berharap bapak-ibunnya mulia, sementara bapak-ibu berharap anak-anaknya hebat. Tapi, hidup selalu disusun oleh kenyataan-kenyataan yang tidak selalu manis. Asam, sepet, pahit, sekaligus terkadang dan PR kita untuk berdamai dengan kenyataan-kenyataan.
Apa jadinya jika ternyata orang tua kita adalah manusia biasa berdosa, bersalah, gegabah?
Hubungan orang tua dan anak secara unik adalah hubungan superordinat-ordinat. Dalam hal ini, orang tua merasa bertanggung jawab untuk memberikan pedoman, contoh, menjadi benar, dan menjauhi salah. Anak di ujung yang lain di wajibkan patuh, menurut, dan percaya.
Saat orang tua ternyata berbuat salah, lalu bagaimana?. Hormat dan respek bingung memilih posisi. Hendak di dudukkan dimana?. Di titik “membuminya” para mantan idola dan pahlawan ini, sebenarnya apa yang terjadi?. Badai emosional. Anak-anak di paksa dewasa dengan terkejut, menerima kenyataan orang tuanya ternyata Cuma manusia. Entah salah, entah khilaf, entah memang tak pernah sempurna. Orang tua dipaksa menelan egonya. Kehilangan hak istimewa untuk dipija tanpa cela.
Akhirnya. Hubungan orang tua dan anak sampai pada tahap yang lebih sejajar, hubungan antara satu manusia dengan manusia lain. Bukan lagi hubungan sebab akibat, superordinat-subordinat. Bicara dari hati ke hati tanpa batas bahwa siapa lebih benar daripada yang lain, siapa lebih tau, lebih tua dari yang lain.
Ada kecewa yang sangat besar yang harus di telan bulat-bulat. Kedua pihak, yang mengecewakan dan di kecewakan, sebaiknya berbesar hati. Orang tua mungkin akan hilang muka. Semoga keduanya tak memilih jalan saling merusak atas nama gengsi. Anak yang berhenti meng-orangtua-kan orang tuanya dan orang tua yang tidak mengakui kesalahannya. Sebab, sok benar gak akan menyelesaikan apapun. Apalagi kesalahan orang tua membawa rentetan konsekuensi panjang: nama baik, utang, tanggungan non-material seperti, adik baru atau ibu baru.
Ada orang tua yang marah-marah sambil melotot di berita tv karena membiarkan rumah istri mudanya di tabraki teman perempuannya. Ada juga yang suka transfer-transfer ke rekening penyanyi dangdut, menyimpan obat kuat dan ganja di laci, ketahuan saat tertangkap tangan KPK. Bersabarlah orang tua manusia biasa mungkin giliran, “Bapak polah anak kepradah”.
           








Tidak ada komentar:

Posting Komentar